Peran Babinsa Dalam Swasembada Pangan
Kamis, 20 April 2017 14:11:29 - Oleh : admin - Dibaca : 676
Home » Opini » Peran Babinsa Dalam Swasembada Pangan

Pertanian di Indonesia mulai berkembang tahun 1962, yang semula   produksi padi hanya mencapai 17.156 ribu ton, kemudian meningkat tiga kali lipat menjadi 47.293 ribu ton, Seiring dengan pertumbuhan laju penduduk yang sangat pesat pada 1992, kebutuhan beras semakin  meningkat dari 95,9 kg per jiwa , menjadi 154,0 kg per jiwa, sedangkan produksi beras tidak meningkat, untuk menutupi kebutuhan beras pemerintah impor beras dari negara lain untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.

Perlu kita ingat kembali bahwa pada tahun 1970-an Prestasi pengembangan dibidang pertanian Indonesia pernah menjadi salah satu negara pengekspor beras terbesar di dunia, hal ini merupakan prestasi yang luar biasa namun kondisi yang nyata berbalik menjadi Negara pengimpor beras. Kemudian pada tahun 1980 Indonesia mampu meraih medali from rice importer to self sufficiencydari Food and Agriculture Organization (FAO). Indonesia mampu mencapai swasembada pangan di bidang pertanian.

Setelah masuk pada Era Reformasi prestasi Indonesia di bidang pangan berangsur-angsur memudar dan tidak lagi bergairah, yang kemudian gagasan melibatkan TNI dalam ketahanan pangan muncul di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Target swasembada pangan kembali digaungkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di era kepemerintahannya, tak tanggung-tanggung Presiden Joko Widodo menargetkan supaya dapat mencapai swasembada pangan untuk 7 komoditas dalam lima tahun. Guna mendukung hal tersebut, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 untuk memuluskan upayanya mencapai target swasembada tersebut.

Menteri Pertanian menggandeng TNI dalam rangka mendukung upaya khusus swasembada pangan 2017. Penandatangan MoU Kementan dan TNI ini dilakukan pada 8 Januari 2015 silam antara Menteri Pertanian RI dengan Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada saat itu dijabat oleh Jenderal TNI Gatot Nurmayanto yang dihadiri oleh Panglima Kodam dan Kadis pertanian seluruh provinsi.

Kerjasama antar Dinas Pertanian dan TNI AD rencananya akan melibatkan 50.000 personil Bintara Pembinaan Desa (Babinsa), disesuai dengan kekurangan tenaga penyuluh pertanian yang dimiliki oleh Dinas Pertanian. Peran TNI disini antara lain untuk melakukan

Program pemerintah dalam membangun ketahanan pangan merupakan program yang harus didukung oleh semua pihak karena kedepannya pangan akan menjadi satu perhatian kita bersama. Keterlibatan TNI dalam usaha ikut meningkatkan produksi pangan terutama tanam padi dan juga ikut mengamankan pendistribusian pupuk kedepan bisa dikembangkan untuk ketahanan pangan dalam arti luas, apalagi dengan didukung oleh teknologi pertanian juga ada sehingga memungkinkan pangan menjadi yang pasti.

penyuluhan kepada para petani dan menunjang sarana pertanian seperti pengadaan traktor, subsidi pupuk, dan pengadaan bibit (Kompas, 8/1/2015). Selain itu TNI juga berperan dalam pendampingan atau pengawalan petani serta penyediaan dan distribusi produk melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) (Tribunnews, 18/12/2016).

Peran TNI dalam memberi kontribusi terhadap sektor pertanian patut diberi acungan jempol, karena TNI yang tadinya lihai memainkan senjata kini dia berperan bisa memainkan cangkul dan traktor pengolah sawah ini luar biasa, mungkin angkatan perang Indonesia satu-satunya mampu menjadi pembimbing, motivator, fasilitator, dinamisator inovator bagi kelompok tani di lapangan.

Seharusnya seluruh elemen bangsa bahu membahu untuk mewujudkan cita-cita mulia ini yaitu Indonesia yang melimpah kekayaan alamnya  khususnya di sektor pangan. Apalagi negara kita merupakan negara agraris, sudah sepantasnya jika seluruh masyarakatnya terlibat dalam kegiatan pertanian. Coba kita tengok sepintas disekitar kita, dulu di kampung mencari petani sangat mudah dan gampang, namun sekarang kita mencari petani sangat susah, karena sawah dan ladang sudah beralih menjadi pabrik, tidak ada generasi petani yang mau menjadi petani, mereka lebih baik menjadi pengojek, buruh pabrik atau merantau kekota, sehingga pantas para petani sekarang sudah tidak bergairah karena pertanian bukan lagi yang bisa dihandalkan untuk mencari nampkah.

Pelibatan TNI dalam mensukseskan program pemerintah untuk swasembada pangan tentunya bukan tanpa alasan. Dan tentu pula bukan tanpa reaksi, pro maupun kontra terhadap keterlibatan TNI untuk terjun langsung kepada pertanian. Apalagi kalau dilihat dari aspek pertanian TNI sangat tidak mungkin mampu mendampingi petani untuk lebih baik, yang ada kehawatiran intervensi dan kekerasan karena TNI yang kita tahu adalah alat pertahanan dan dia memiliki skil berperang membunuh atau dibunuh, sekarang ikut mengolah pertanian kita bertanya kapan TNI sekolah pertaniannya. Padahal Babinsa bukan tenaga terampil di bidang pertanian. Pengerahan Babinsa karena Kementerian Pertanian kekurangan tenaga pendamping bagi kelompok tani di Indonesia. Jumlah kekurangannya mencapai 70.000 orang. "Oleh sebab itu dengan ditutup 50.000-an dari Babinsa, itu sudah sangat membantu petani di lapangan.

Bukan untuk mengambil alih tugas dari Tim Penyuluh (Penyuluh Pertanian). Jadi dapat dipastikan Babinsa bukan Penyuluh Pertanian, tapi pada banyak tempat lebih kepada menjadi pengisi kekosongan penyuluh pertanian yang memang jumlahnya masih sangat kurang secara Nasional. Perlu kita pahami bersama bahwa pengerahan Babinsa TNI AD ini karena Kementerian Pertanian kekurangan tenaga pendamping bagi kelompok tani di Indonesia.

Di lapangan, kehadiran Babinsa dalam program pangan akan menjadi motivator dan pendorong bagi petani dan kelompok tani, lebih dari itu, kehadiran Babinsa juga menjadi pemicu serta pemacu bagi para penyuluh dan petugas pertanian di lapangan. Bahwa kehadiran Babinsa bukan untuk mengambil penyuluh, tetapi lebih ke arah sinergi langkah dan gerak dengan fungsi dan perannya masing-masing guna mendinamisasi pembangunan pertanian di pedesaan.

Keterlibatan Babinsa TNI AD dalam Ketahanan Pangan sekarang ini berbeda pada masa Orde Baru yang mungkin menjadi kekhawatiran berbagai pihak muncul, Karena kepemimpinan Nasional di tangan sipil, akan tetapi menjadi Strategis, Dengan Mempertimbangkan Sumber Daya TNI. Sumber Daya TNI yang ada dimana-mana, tidak hanya di perkotaan, tapi sampai ke pelosok pedesaan, bisa menjadi unjung tombak dalam mengamankan berbagai permasalahan pertanian. Keterlibatan Babinsa TNI AD di bidang ketahanan pangan memang masih terbatas dalam pendampingan untuk meningkatkan produksi Tanaman Padi, Jagung dan Kedelai. Meski demikian, keterlibatan TNI, dalam pendampingan ketahanan pangan tetap harus disambut positif. Kehadiran  Babinsa TNI AD bukan sebagai penyuluh pertanian akan tetapi babinsa TNI AD adalah motivator, fasilitator, dinamisator innovator bagi kelompok tani di lapangan.

Keterlibatan Babinsa dalam ketahanan pangan ini bukan baru saat ini saja, sebelumnya sudah dilaksanakan, karena para Babinsa Komando Kewilayahan (Kodim) berperan dalam bidang Ketahanan Pangan, karena mereka mempunyai kewajiban melaporkan data teritorial yang ada di desa binaannya serta menjaga tetap dalam kondisi yang baik. Melalui program ketahanan pangan ini justru suatu peningkatan, karena begitu program digulirkan Babinsa juga ditingkatkan kemampuannya dengan diberikan pelatihan di bidang pertanian, sehingga mengerti komponen apa aja yg menunjang keberhasilan ketahanan pangan, bukan supaya bisa bercocok tanam saja. Pendampingan Babinsa juga diperlukan untuk mengawasi distribusi pupuk dan bibit agar bisa sampai ke tangan petani tepat sasaran maupun tepat waktu. Semoga langkah Positif ini dapat segera mewujudkan Ketahanan Pangan yang kita dambakan bersama.

Babinsa Sebagai Pendamping

Bintara Pembina Desa TNI AD yang dikenal Babinsa yang merupakan garda terdepan, yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Babinsa berada di bawah Koramil sebagai organisasi setruktural yang memiliki wilayah tugas di Desa atau kelurahan sebagai pembina. Seorang Bintara Pembina Desa memiliki wilayah tanggung jawab bervariasi, dari  satu desa hingga beberapa desa. Tiap Kodim pasti punya Koramil model tempat para Babinsa itu ditempa. Intinya, bagaimana mengubah mereka dari personel satuan tempur menjadi personel satuan teritorial yang siap pakai sebagai pembina di desa.

Sebetulnya, apa tugas pokok para bintara pembina desa TNI AD itu? 

Menurut Peraturan Kepala Staf TNI AD Nomor 19/IV/2008 tertanggal 8 April 2008, seorang Bintara Pembina Desa berkewajiban untuk melaksanakan pembinaan teritorial sesuai petunjuk atasannya, yaitu komandan komando rayon militer.

Secara pokok, tugas-tugas mereka meliputi mengumpulkan dan memelihara data pada aspek geografi, demografi, hingga sosial dan potensi nasional di wilayah kerjanya. Berkaitan dengan program pemerintah dalam swasembada pangan dan melibatkan Babinsa, tentunya kita akan bertanya, apa yang akan dikerjakan oleh Babinsa  yang bertolak belakang dengan kemampuannya sebagai militer, sementara tugas barunya Babinsa sebagi pedamping dan sebagi penyuluh pertanian yang tidak terjamah oleh penyuluh dari pertanian.

Dengan pikiran yang jernih, kita semua perlu memandang persoalan secara proporsional dan terukur serta yang paling penting kita perlu menanamkan prasangka baik, sehingga dengan semangat dan jiwa kejuangan yang tinggi ini persoalan bangsa seberat apapun akan terselesaikan. Biarkan merak bekerja, dalam situasi negara aman seperti sekarang ini, kepedulian TNI AD mendukung pencapaian kedaulatan pangan patut kita hargai dan berikan apresiasi. Kita harus yakin bahwa kepedulian TNI AD bersifat murni dan semata-mata dilandasi oleh tugas negara mendorong kedaulatan negara dan bangsa, salah satunya melalui kedaulatan pangan.

Berangkat dari asumsi pemikiran untuk mendukung pemerintah dalam mensukseskan swasembada pangan, TNI AD bertekad  untuk mendukungnya, tercapainya ketahanan pangan nasional pada tiga tahun mendatang. Untuk menjawab hal tersebut, TNI AD melalui Babinsa yang telah tergelar di pelosok-pelosok desa, dipandang memiliki potensi sebagai penggerak dalam mendukung terwujudnya ketahanan pangan, sehingga desa-desa yang menjadi wilayah binaannya akan dapat menjadi "Lumbung Pangan". Konteks ketahanan pangan mencakup aspek yang luas, tidak hanya pada peningkatan produksi pangan tetapi juga menyangkut hal lain seperti kesejahteraan petani dan Melimpahnya pangan.

Tentu tidak salah melibatkan TNI sebagai pendamping petani dalam rangka percepatan target swasembada. Karena Babinsa selalu memberikan motivasi, dorongan dan ide-ide yang positif, dan bermanfaat bagi lingkungan termasuk masalah kesulitan yang dihadapi oleh petani, seperti pupuk, pengairan, masalah harga padi yang dipermainkan oleh para tenggulak dan banyak lainnya yang bisa Babinsa selesaikan dengan baik. Keterlibatan Babinsa dimasyarakat terukur dan teruji, sebelum diterjunkan ke masyarakat terlebih dahulu dibekali ilmu teritorial yang isinya mempelajari lingkungan dimana iya bertugas dan termasuk diterjunkan untuk pendampingan para petani untuk meningkatakan swasembada pangan yang dicanangkan oleh pemerintah saat ini.

Babinsa dikursuskan terlebih dahulu untuk menggikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas pertanian tentunya yang menyampaikan materi pertanian para pakar dan insinyur pertanian yang berpengalaman. Oleh sebab itu Babinsa yang diterjunkan untuk pendampingan para petani  tidak usah diragukan lagi kempuannya, karena mereka sudah dibekali dan diinformasikan apa kesulitan para petani dilapangan. Melalui pelatihan-pelatihan ini, hingga saat ini di setiap Kodam rata-rata sudah ada lebih dari 1000 anggota yang telah mengikuti pelatihan dan siap melakukan tugas pendampingan. Mereka diberi bekal pengetahuan bagaimana cara melakukan pembenihan, menanam yang baik, pemupukan,  dan pengetahuan praktis pertanian lainnya.

Berbicara soal kesiapan Babinsa sebenarnya sudah cukup banyak yang selama ini berperan dalam membantu petani di wilayah tugasnya, bahkan cukup banyak pula Babinsa dan Danramil yang menjadi praktisi pertanian atau jadi petani. Di luar tugas pokoknya, mereka selain membina para petani juga ikut bertani, terutama para Danramil dan Para Babinsa yang bertugas didaerah yang memiliki potesi pertanian.

Kami yakin TNI Angkatan Darat tidak akan  mengambil alih tugas atau fungsi dari penyuluh atau sarjana pertanian yang manapun. Babinsa yang telah menguasai metode pertanian pun tidak lantas mengecilkan peran para penyuluh dan praktisi pertanian yang sesungguhnya. Secara pasti Babinsa justru akan bahu membahu dengan para penyuluh pertanian lapangan melakukan upaya bersama untuk meningkatkan produktifitas pertanian.

Pada peran seperti itu. Babinsa memang menjadi motivator, fasilitator, dinamisator dan bahkan ada yang mampu menjadi innovator bagi kelompok tani di lapangan. Apapun sebutannya, Babinsa akan selalu melakukan pendampingan dengan tujuan akhir tercapainya program swasembada pangan. sejauh ini peran Babinsa itu sudah mulai dilakukan secara bertahap dan mulai meluas baik dalam cakupan wilayah binaannya maupun kualitas pendampingan di semua wilayah di tanah air.

Konkritnya, ketika ada daerah yang belum terdapat tenaga penyuluh pertanian, Babinsa bisa mendampingi dan memotivasi petani agar bercocok tanam dengan tata kelola yang baik. Mulai dari pembenihan, menanam, saat terjadi serangan hama atau terjadi masalah dengan irigasi, hingga penanganan saat masa panen tiba. Namun manakala penyuluh hadir di desa itu, maka sepenuhnya tugas itu dilaksanakan oleh penyuluh, Babinsa hanya memberi dorongan semangat kepada para petani.

Dan perlu dicatat, Babinsa itu memang tugasnya di tengah masyarakat, bukan dibelakang meja, justru jika banyak diam di kantor berarti mereka tidak bekerja.  Mungkin untuk di lingkup perkotaan Babinsa tidak terlihat menonjol, tapi di pedesaan Babinsa bersama unsur kepemimpinan lainya di desa tersebut mampu menjadi bagian dari upaya untuk mengatasi kesulitan masyarakat, termasuk mereka yang butuh bantuan, mulai dari yang sifatnya tenaga hingga sumbang saran untuk pemecahan masalah yang dihadapi oleh petani.

Ketika timbul permasalahan terkait kebutuhan pupuk, benih, irigasi atau masalah lainnya, maka Babinsa akan mencatat dan melaporkan permasalahan secara berjenjang hingga ke pihak yang memiliki otoritas sebagi pemecahan persoalan yang dihadapi oleh petani sehingga persoalan-persoalan sekecil apapun akan segara terselesaikan dengan baik. Itulah fokus utama tugas Babinsa sebagai katalisator, menjembatani petani dengan berbagai pihak terkait, sehingga nantinya petani bisa meningkatkan produksinya dan swasembada pangan bisa tercapai.

Sebenarnya keterlibatan Babinsa seperti dalam pendampingan pertanian ini bukanlah tugas yang sama sekali baru. Pada tahun-tahun yang lalu, bahkan hingga saat ini, BKKBN dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk, menggalakan program yang disebut sebagai Program KB Kes, Keluarga Berencana Kesehatan. Siapa yang jadi penggeraknya, tentunya Babinsa. Mereka dilibatkan sebagai penggerak masyarakat untuk ikut dan penting tidaknya  informasi tentang penyuluh KB dan yang terlebih untuk mendorong masyarakat mengikuti program KB, dengan harapan pertambahan penduduk akan lebih terkendali, dan tercipta untuk lingkungan keluarga yang sehat sejahtera.

Namun harapan kedepan turunya Babinsa menjadi pendaping petani bisa memotivasi para petani muda yang mungkin bagi generasi muda kita pekerjaan menjadi petani masih belum menjadi pekerjaan yang menarik, bahkan sangat sedikit petani yang berusia relatif muda di Indonesia. Mereka lebih tertarik bekerja di sektor industri, tukang ojek atau menjadi pegawai kantor.

Berharap, suatu saat kelak ketika pertanian kita makin maju, akan menjadi motivasi petani muda untuk terjun didunia pertanian yang menjanjikan untuk masadepan masyarakat umumnya bangsa Indonesia yang tidak lagi ketergantungan dari hasil pertanian negara lain, karena disektor pertanian bisa menjanjikan untuk masa depan para petani dan mudah-mudahan nilai gabah atau beras makin stabil dan tidak merugi, untuk itu gabah petani harus diserap sebagian oleh bulog dan diharapkan ada keseimbangan, petani untung, pengusaha penggilingan untung dan sebagian juga dapat diserap oleh Bulog untuk memastikan ketersediaan pangan Nasional, Jika stok beras terpenuhi maka pemerintah tidak akan melakukan impor beras karena semua bisa terpenuhi dengan hasil pertanian kita.

Sehingga secara ekonomi menjadi sangat menjanjikan menjadi petani, akan makin banyak generasi muda kita yang mau turun ke sawah menjadi petani. 

Penulis: Letkol Inf Drs. Solih

 

Baca "Opini" Lainnya

All Comments (0)

Sign In or Sign Up now to post a comment!

Tahun 2017 Adalah Bersih-Bersih Ditubuh TNI dari Masalah Korupsi, Karena Korupsi Dapat Menghambat Kemajuan dan Pembangunan TNI

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo

Siaran Pers

Pengumuman

Kamis, 15 Juni 2017
Lomba Foto dan Karya Tulis
Jum`at, 2 Januari 2015
Call Center

Polling

Informasi apa yang paling Anda butuhkan dari website ini ?

 
TV Streaming
patriot
patriot
pendidikan
Majalah TNI
download
download
download
LPSE
LAKIP

Video TNI