72c48fd458ce9e91857e30ed00aff432.jpg

Komunikasi Sosial Sebagai Penyampaian Pesan Babinsa

Senin, 29 Mei 2017 11:36:23 - Oleh : admin - Dibaca : 658 kali

Komunikasi Sosial Sebagai Penyampaian Pesan Babinsa

Belakangan ini kata Babinsa TNI AD mengemuka dan mendadak terkenal, terutama dengan adanya pendampingan pada program ketahanan pangan melalui kerjasama TNI AD dengan Kementerian Pertanian. Babinsa (Bintara Pembina Desa) TNI AD merupakan satuan teritorial paling terdepan dan terendah di TNI AD dalam aparat  teritorial, kenapa terdepan karena yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Babinsa kedudukannya berada dibawah Komando Rayon Militer, dan bagian dari Komando Distrik Militer, kalau ditarik keatas lagi Komando Daerah Militer.

Pertimbangan dan pemanfaatan aspek Teritorial dalam berbagai penugasan bukanlah barang baru bagi TNI, bukan rekayasa atau buatan TNI yang sekedar untuk menambah perannya dalam kancah kehidupan berbangsa dan bernegara.   

Kita sadari bersama bahwa sampai saat ini masih banyak pihak atau kalangan di tingkat bawah sampai dengan tingkat atas belum memahami secara benar tentang peran Teritorial TNI. Kecenderungan untuk mendefinisikan menurut pemahaman yang didasarkan pada pertimbangan secara nyata atau teori, tentu setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda dan mempersepsikan menurut pemahamannya masing-masing.  Sehingga tidak jarang peran teritorial dipersepsikan dengan istilah "nge-ter" yang berarti mendekati masyarakat untuk mendapatkan keuntungan, atau masih banyak lagi istilah-istilah lain yang multi persepsi, bahkan ada pendapat "ter = menguasai wilayah".   Pemahaman tersebut sangat tidak relevan dengan peran Teritorial TNI yang sesungguhnya dan bila dibiarkan akan mendistorsi nilai-nilai perjuangan dan pengabdian TNI kepada bangsa dan negara Republik Indonesia.

Teritorial TNI adalah salah satu bagian dari 5 (lima) fungsi organik TNI yaitu fungsi intelijen, fungsi operasi, fungsi personel, fungsi logistik dan fungsi teritorial yang memiliki tugas membina dan mendayagunakan unsur-unsur geografi, demografi dan kondisi sosial menjadi ruang, alat, dan kondisi (RAK) juang yang tangguh dalam pencapaian tugas pokok TNI yaitu menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.    

Binter sebagai salah satu fungsi utama TNI diselenggarakan secara profesional sebagai bagian dari panggilan tugas untuk menjaga keutuhan wilayah dan kedaulatan NKRI. Jatidiri TNI sebagai Tentara Rakyat sangat melekat pada dada setiap prajurit dimana kemanunggalan TNI dengan rakyat merupakan roh maupun jiwanya TNI. Oleh karena itu dalam gelar satuan TNI diwujudkan organisasi yang bertugas membina kemanunggalan  TNI dengan Rakyat melalui Satuan Komando kewilayahan (Satkowil) untuk menyiapkan ruang alat dan kondisi juang yang tangguh untuk kepentingan pertahanan negara. Penataan tersebut ditempatkan hampir seluruh penjuru tanah air melalui ditingkat pemerintah pusat sampai ketingkat pemerintah desa yang dikenal mulai Kodam, Kodim, Koramil dan Babinsa.

Penyelenggaraan Binter secara konstitusional merupakan amanat penyelenggaraan pertahanan negara di darat berdasarkan kesepakatan bangsa yang memiliki legitimasi yang kuat dan mendasar. maksud dari pembinaan teritorial fungsi utama adalah TNI tidak boleh lari dari tanggung jawab. Pembinaan teritorial harus jadi fungsi utama. Pada masa lalu prajurit lahir dari rakyat dan berjuang untuk rakyat.

Dalam implementasinya Binter dilaksanakan TNI  secara profesional tetap mengedepankan kepentingan politik negara yang mengacu pada nilai dan prinsip demokrasi, supremasi sipil, dengan tetap memegang teguh Jati diri TNI. "Pelaksanaan Binter harus dapat diukur, dipertanggungjawabkan dan dirasakan manfaatnya secara nyata, aktual dan faktual bagi kepentingan aspek kesejahteraan dan pertahanan yang memegang teguh prinsip-prinsip penyelenggaraan pertahanan negara.  Yang dimaksud pemberdayaan wilayah adalah membantu pemerintah menyiapkan potensi daerah, membantu pemerintah menyelenggarakan pertahanan dasar kemiliteran dan membantu pemerintah memberdayakan rakyat sebagai komponen pendukung pertahanan negara.

Selanjutnya dalam memberdayakan kekuatan pertahanan, TNI harus berperan aktif, sedangkan kekuatan TNI saat ini adalah Satkowil yang tergelar dari tingkat Desa, Kecamatan sampai Kabupaten/Kota. Oleh karena itu Komandan Satkowil harus bisa mengembangkan peranannya didaerah, terutama dalam membina potensi pertahanan untuk memberdayakan menjadi kekuatan pertahanan, guna mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, melindungi kehormatan dan keselamatan bangsa Indonesia.

TNI dan masyarakat memang tidak dapat dipisahkan, karena TNI berasal dari rakyat dan akan selalu bersama-sama dengan rakyat dalam menjaga keutuhan NKRI. Untuk itu  TNI  terus menjaga kemanunggalan TNI dengan rakyat, melalui pembinaan teritorial. Binter merupakan salah satu fungsi utama TNI  dan merupakan bagian tugas yang harus dilaksanakan untuk menwujudkan kemanungglan TNI dan rakyat dalam rangka tercapainya tugas pokok TNI. Dalam mewujudkan dan memelihara semangat kemanunggalan TNI Rakyat maka diperlukan suatu sikap perilaku TNI  yang baik, agar tercipta citra positif di masyarakat. Binter merupakan salah satu fungsi utama TNI dan merupakan bagian dari tugas yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan kemanunggalan TNI Rakyat dalam rangka tercapainya tugas pokok TNI.

Peran Ganda Babinsa

Ujung tombak TNI AD dibidang teritorial adalah babinsa. Dalam melaksanakan tugasnya, babinsa harus menguasai lima kemampuan teritorial. lima kemampuan teritorial diantaranya kemampuan cegah dini deteksi dini lapor cepat. Selain itu juga Babinsa dituntut  untuk mempunyai kemampuan komunikasi sosial. Artinya, babinsa harus pandai ngomong, pandai berpidato, ceramah dan menguasai segala ilmu pengetahuan, penguasaan ilmu seni kepemimpinan sangat mempengaruhi keberadaan babinsa di lapangan. "Agar masyarakat simpati dan percaya terhadap apa yang diucapkannya. Bintara Pembina Desa (Babinsa) memiliki peran penting bagi masyarakat, baik dalam kerukunan hingga masalah ketahanan masyarakat. Bintara Pembina Desa (Babinsa) tidak pernah jauh dari masyarakat binaannya, oleh karena itu Babinsa harus senantiasa selalu berkomunikasi dengan masyarakat binaannya untuk menjalin silaturrahmi dan membahas hal-hal yang dapat membantu masyarakat.

Zaman sekarang ini Babinsa harus sangat berperan penting di masyarakat, agar citra TNI selalu baik di mata rakyat. Babinsa harus menguasai wilayah desa binaannya, sehingga bisa mengetahui berapa jumlah penduduk di desa binaan, dan sebagainya. "Sekarang kita punya program baru untuk membantu pemerintah yaitu program swasembada pangan, mari kita sukseskan bersama-sama dengan masyarakat para petani di wilayah masing-masing. Program baru ini tentunya akan dilaksanakan oleh Babinsa sebagi ujung tombak program swasembada pangan didaerah, tertutama yang tidak terjangkau oleh para penyuluh pertanian, mau tidak mau suka tidak suka Babinsalah yang harus terjun langsung untuk menyampikan gagasan dan saran kepada para petani yang kurang produksinya, inilah peran ganda babinsa, disisi lain sebagai pembinaan masyarakat Desa disisi lain sebagi penyuluh dan terjun langsung membatu, mengawal dan mengarahkan petani untuk dapat berhasil dalam bertaninya.

Kehadiran Babinsa harus bisa dirasakan masyarakat, memberikan solusi, meringankan masyarakat dan membantu mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya seperti yang tertuang dalam delapan wajib TNI. Selain itu juga, Babinsa harus mampu dan terus meningkatkan komunikasi sosial, manajemen teritorial, pengumpulan data dan analisa sesuai aspek geografi, demografi dan kondisi sosial di lapangan. "Hal ini harus terwujud dalam rangka menghadapi ancaman nyata. Memang sukses itu berat akan tetapi sukses itu nikmat, apabila hal ini dapat terwujud oleh Babinsa dalam mengoptimalkan bimbingan territorial dengan baik di lapangan.

Optimalisasi peran TNI juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan prajurit TNI sebagai insan teritorial yang memiliki sifat sebagai seorang social entrepreneur yang berperan sebagai pembuka jalan, penunjuk arah, dan pemberi dorongan bagi masyarakat untuk maju, sedangkan yang bersifat ke dalam, TNI senantiasa mengembangkan kemampuan dan meningkatkan sistem menejemen teritorial yang semaksimal mungkin diarahkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berangkat dari Instruksi Presiden, TNI sebagai salah satu  komponen bangsa yang memiliki jatidiri sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional dapat berperan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa.  Dimasa damai TNI tidak saja sebagai kekuatan pertahanan yang dipersiapkan untuk menghadapi ancaman militer yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai kekuatan untuk membantu pemerintah didalam proses pembangunan nasional yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kepekaan masyarakat terhadap berbagai kepentingan pertahanan dan keamanan.

Implementasi Peran TNI dalam membantu pemerintah dalam melaksanakan pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara, dilakukan melalui kegiatan Pembinaan Teritorial dengan metode yaitu Bakti TNI yang merupakan pendayagunaan kemampuan TNI terhadap obyek yang bersifat fisik, dan Pembinaan Ketahanan Wilayah (Bintahwil) dalam rangka membangun kesadaran berbangsa dan bernegara, serta Komunikasi Sosial (Komsos) dalam obyek membina kesadaran mental spiritual sebagai wujud pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara.

SDM Babinsa Dalam Komunikasi Sosial

Keberhasilan tugas suatu Satuan teritorial untuk memantau situasi di tiap-tiap pelosok tanah air bergantung pada organisasi dan personilnya itu sendiri. Sedangkan keberhasilan tugas tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan aparat teritorial itu sendiri mulai dari satuan teritorial tingkat pusat sampai tingkat yang paling rendah. Apabila dikaitkan dengan situasi sekarang ini, program pemerintah dalam hal pembangunan memerlukan perhatian yang cukup besar terutama koter. Kemampuan Pembinaan Aparat Teritorial. Untuk mendidik aparat teritorial agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik di suatu Lembaga pendidikan dibutuhkan tenaga pembina aparat teritorial yang handal, punya kemampuan pengalaman yang lebih baik dibandingkan dengan yang dibinanya.

Lembaga Pendidikan teritorial sebagai salah satu pembentuk aparat  teritorial  yang  diharapkan dapat membentuk aparat teritorial yang handal sesuai kebutuhan dilapangan, dan tidak terkesan dengan asal mengisi kekosongan, namun jauh-jauh sebelumnya sudah disiapkan pengkaderan, karena tugas Babinsa atau aparat teritorial semakin berat dan komplek. Kita liat tugas babinsa kedepan selain pandai bergaul, juga mampu berkomunikasi sosial dengan masyarakat yang begitu heterogen bermacam-macam status sosial yang dihadapi oleh seorang Babinsa, ada tokoh agama, tokoh masyarakat, mahasiswa, ormas, pelajar dan bahkan petani, seandainya Babinsa tidak memiliki kemampuan tentunya kalau menghadapi masyarakat tersebut tidak akan nyambung bahkan hilang kepercayaan masyarakat terhadap Babinsa sebagai aparat pembina Desa.

Masih ada kekurangan dari aparat dari teritorial itu sendiri untuk melaksanakan tugasnya secara maksimal dikaitkan dengan keadaan tiap-tiap individu yang belum yakin akan keberhasilan tugas yang diembannya. Bekal Babinsa sebelum diterjunkan ditengah-tengah masyarakat harus matang, baik itu mentalnya, pengetahuan umum, agama, budaya dan rasa solidaritas terhadap perkembangan dilingkungannya, dan yang terpenting komunikasi sosialnya diinsentifkan untuk menjaring input masyarakat yang harus dipecahkan jangan sampai berlarut-larut, respon seorang Babinsa harus bisa menyakinkan masyarakat agar masyarakat respek terhadap aparat Babinsa, segala persoalan yang dihadapi masyarakat tentunya akan disampikan kepada Babinsa, dan jangan sebaliknya kehadiran Babinsa menjadi momok menakutkan masyarakat dan masyarakat menjadi antipati terhadap Babinsa. Sikap Teritorial/Babinsa menjabarkan wujud nyata penghayatan dan pengamalan Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI dalam bentuk tingkah laku dan cara bergaul antara lain :

a.    Murah senyum.

b.    Tegur sapa.

c.    Rasa hormat & terima kasih.

d.    Kenali adat istiadat.

e.    Larut diri disetiap lapisan masyarakat.

f.     Positif dalam tata susila.

g.    Kesediaan untuk membantu.

h.    Selalu ikut giat keagamaan.

Babinsa harus memiliki kemampuan komunikasi sosial dengan komponen masyarakat dan aparat pemerintah lainnya, sehingga melalui komunikasi tersebut Babinsa dapat mengajak komponen-komponen yang ada untuk ikut berpartisipasi dalam perencanaan, penyiapan dan apa yang diinginkan oleh pemerintah sebagai program unggulan untuk mensejahterakan masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat tentu membutuhkan komunikasi. Tanpa komunikasi kehidupan terasa gelap bahkan dapat dikatakan tersesat. Dengan komunikasi kita dapat mempelajari serta menafsirkan situasi apapun yang akan dihadapi. Dengan komunikasi juga dapat beradaptasi serta mengatasi situasi situasi yang sedang terjadi.

Salah satu tujuan komunikasi sosial adalah terbentuknya suatu aktualisasi diri pribadi, stabilitas sosial, tertib sosial, penerusan nilai-nilai lama dan baru di masyarakat sehingga dapat memupuk, membina dan memperluas kesadaran bermasyarakat. Komunikasi sosial berkaitan erat dengan komunikasi antar satuan/institusi dalam pembangunan di bidang keamanan serta bagaimana komunikasi harus dilakukan, sehingga berperan sebagai penunjang pelaksanaan program-program pembangunan lain, dalam rangka menciptakan perubahan pada suatu sistem sosial yakni perubahan sosial. Fungsi lain dari komunikasi sosial memudahkan masyarakat dan babinsa dalam menghadapi masalah yang ada maka dengan komunikasi bisa dirembukan bersama mencari yang terbaik, melalui komunikasi sosial lah tentunya hal sesulit apapun bisa ditangani dengan mudah.

Komunikasi sosial antara masyarakat dengan institusi terkait dapat diwujudkan apabila  terjadi interaksi sosial dengan inovasi-inovasi baru sebagai konsekuensi wujud dari tujuan/kebutuhan yang sama seperti program pemerintah untuk ketahan pangan, melalui Babinsa sebagai tenaga penyuluh pertanian yang tidak terjangkau oleh penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian, maka Babinsalah mengkomunikasikan kepada petani, bagimana untuk bisa menanam padi dengan kualitas unggul dan hasil yang bagus ini menurut hemat penulis salah satu terobosan Inovasi-inovasi baru Babinsa dan petani terjalin komunikasi sosial yang dibangun untuk  dapat diimplementasikan dalam mengatasi permasalahan yang timbul dalam suatu sistem sosial yang ada dimasyarakat dan mengurangi gesekan-gesekan dimasyarakat. Permasalahan-permasalahan dalam komunitas masyarakat, perlu mendapatkan perhatian oleh sistem sosial yang ada terutama hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial yang bersifat menunjang kehidupan masyarakat. Implementasi yang paling penting adalah pembangunan non fisik adalah pemahaman tentang pentingnya "komunikasi" dan cara "berinteraksi"  antara masyarakat dengan intitusi terkait sehingga akan terjadi kesejahteraan yang diharapkan.

Melalui Komunikasi sosial Inovasi-inovasi dapat diakomodir oleh pihak-pihak terkait yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial, baik itu kelompok masyarakat, organisasi, institusi pemerintah dan institusi lain (lembaga-lembaga sekolah) yang dapat mengambil bagian dalam mengatasi setiap permasalahan sosial di masyarakat, kedepan akan terwujud keamanan dan kenyamanan bersama. Pemberdayaan aparat teritorial harus dilakukan secara terus menerus dalam mendukung tugas pokok TNI, dengan kondisi yang telah berubah bukan berarti masalah pemberdayaan aparat teritorial luput dari perhatian kita bersama, justru pada saat kondisi sekarang di saat kemajuan berpikir dan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin tinggi dituntut kreativitas dan inovasi kita dalam melakukan pemberdayaan aparat teritorial yang dilakukan oleh masing-masing Angkatan dengan saling bekerjasama dan salin berkoordinasi baik secara internal maupun eksternal, TNI tidak boleh tinggal diam dengan perkembangan kondisi tapi justru berperan aktif dalam membangun suasana kondusif di tengah masyarakat.

Oleh : Letkol Inf Drs. Solih

"Jadi salah kalau orang mengatakan kalau TNI tidak tahu HAM"    
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo
Pengumuman
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Rabu, 15 November 2017
Panglima TNI : Hoax, Prajurit dan Wartawan
Rabu, 15 November 2017
Gatot Nurmantyo: Jangan Menelan Berita Mentah-Mentah
Rabu, 15 November 2017
TNI Harus Kuasai Media Digital
Sabtu, 11 November 2017
Panglima TNI: Pahlawan Berjuang Tidak Pernah Menanyakan Apa Agamamu
Sabtu, 11 November 2017
Jenderal Gatot: Pahlawan Berjuang Tak Tanya Sukumu Apa