72c48fd458ce9e91857e30ed00aff432.jpg

Teroris Suatu Kejahatan Terhadap Negara

Kamis, 6 Juli 2017 11:56:57 - Oleh : admin - Dibaca : 309 kali

Teroris Suatu Kejahatan Terhadap Negara

Akhir belakangan ini rakyat Indonesia dibuat was-was dan waspada dengan keberadaan para teroris yang masih berkeliaran dengan aksinya yang telah banyak menelan korban jiwa. Selain mengundang perhatian publik dan media, peristiwa ini juga menimbulkan simpati bagi para korban-korbannya, sementara RUU teroris belum juga selesai dan masih adanya tarik ulur di DPR.Semoga pemerintah dan semua pihak  dapat membuktikan kepada masyarakat dapat meredam aksi-aksi teroris ditengah masyarakat, karena yang menjadi korban adalah orang-orang yang tidak bersalah.

Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban manusia serta ancaman serius terhadap keutuhan dan kedaulatan suatu negara.Terorisme saat ini bukan saja merupakan suatu kejahatan lokal atau nasional tetapi sudah merupakan kejahatan transnasional atau internasional, banyak menimbulkan ancaman atau bahaya terhadap keamanan, perdamaian dan sangat merugikan kesejahteraan masyarakat dan bangsa.

Terorisme sudah menjadi perbincangan dunia Internasional termasuk Indonesia pasca runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) di Amerika. Namun untuk Indonesia mulai dirasakan dampaknya saat ada bom bunuh diri di Bali 12 Oktober 2002, berlanjut 5 Agustus 2003 di hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton Jakarta yang mengakibatkan 9 orang tewas dan puluhan orang mengalami luka-luka. Terakhir sekali bom bunuh diri di Kampung Melayu.

Dampak terorisme yang sangat besar. Banyaknya korban akibat aksi teroris, menyebabkan terorisme bukan lagi merupakan kejahatan pidana biasa, melainkan merupakan ancaman berbahaya dan perlu mendapat penanganan serius dari pemerintah dan pihak keamanan. Kejahatan terhadap Kemanusiaan (Crime Against Humanity). Proses penanganan dan pemberantasan terorisme tentunya harus melibatkan semua unsur dan semua komponen bangsa. Baik Polri maupun TNI mempunyai wewenang dalam mengatasi aksi terorisme mengingat ancaman terorisme sekarang ini begitu besar. Menurut konvensi PBB tahun 1937, terorisme adalah segala bentuk tindakan kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas.

Pro Kontra Definisi Teroris

Pro Kontra terhadap definisi Teroris sebagai kejahatan kemanusiaan tidak lepas dari deklarasi yang diselenggarakan oleh Prancis, Rusia dan Inggris pada tanggal 24 Mei 1915. Istilah tersebut muncul akibat tindakan yang diambil Turki selama perang terhadap populasi Armenia di Turki. Sejak saat itulah lahir istilah kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban dengan korban jiwa dalam skala besar dan melahirkan ketakutan disebut teorisme.

Sementara Amerika dan sekutunya termasuk Indonesia menyatakan terorisme sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan, di sisi lain kelompok teroris juga mengklaim adanya legalitas dan keabsahan dalam setiap tindakan yang mereka lakukan. Apalagi tentunya setiap tindakan yang mereka lakukan dengan alasan misalnya kaitan dengan serangan Amerika ke Iraq, atau kasus Israel Palestina. Walaupun kemudian lahir pro kontra terhadap terosisme, bahwa setiap kasus yang kemudian menghilangkan nyawa dan meresahkan masyarakat adalah salah.

Selain itu istilah Terorisme ini juga dapat didefinisikan sebagai setiap tindakan yang melawan hukum dengan cara menebarkan teror secara meluas kepada masyarakat dengan ancaman atau kekerasan, baik yang diorganisir maupun tidak, serta menimbulkan akibat berupa penderitaan fisik dan/atau psikologis dalam waktu berkepanjangan sehingga dikategorikan sebagai tindak kejahatan yang luar biasa.

Terorisme bukan kejahatan biasa, bukan tindak pidana biasa, ini adalah Kejahatan Luar Biasa (Extraordinary Crime) terhadap negara dan bangsa. Inilah dinamika terorisme sekarang ini yang terjadi pada hampir semua negara termasuk Indonesia.

Banyak yang yang harus dikaji ulang pemerintah dalam Revisi UU Terorisme. Pelibatan militer dalam penanganan teroris merupakan langkah tepat jika mengacu dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 34/2004 tentang TNI disebutkan bahwa TNI dalam tugas pokoknya melalui operasi militer selain perang (OMSP), punya kewenangan untuk mengatasi aksi terorisme. Selain itu, kegagalan program deradikalisasi selama ini, semestinya bisa menjadi cambuk dalam Revisi UU Terorisme. Sukses program deradikalisasi, tidak hanya ditentukan pada pelaksanaan program yang dilakukan aparat dan pengiat HAM, namun juga sangat dipengaruhi oleh proses penanganan terorisme sejak awal sehingga kita bisa menangani sejak masih menjadi embrio, kalau sudah menjadi dewasa itu sangat repot dan berat, kita contoh di Syria dan Iraq.

Militer dalam penanggulangan teroris

Undang-undang Terorisme yang dimiliki Indonesia menurut Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo masih memiliki kelemahan, sehingga paham radikal bisa berkembang di sebuah lingkungan masyarakat, baik di Desa maupun di kota yang selama ini berbaur ditengah-tengah masyarakat, mereka bebas mencari kontrakan yang aman menurutnya.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mencontohkan cara penanganan teroris di Amerika Serikat (AS). Menurutnya, penanganan di AS sangat serius karena ancaman terorisme bukan hanya pada orang per orang tetapi terhadap negara. Negara adidaya itu sampai melibatkan CIA dan militer dalam penanganan teroris serta menjadikan masalah tersebut sebagai agenda prioritas pemerintah AS.

Upaya pencegahan tidak dapat dilakukan satu lembaga pemerintahan saja tetapi harus ada kerjasama dan sinergi antar lembaga pemerintah serta melibatkan masyarakat. Kita punya badan pengumpulan keterangan diseluruh pelosok Indonesia. Babinsa ada 53.000 personel, Babinkamtibmas dari Kepolisian 62.000 personel, Lurah/Kepala Desa 81.000 personel. Total ada 271.000 orang. Apabila dimanfaatkan sangatlah efektif.

Terorisme sebagai kejahatan terhadap negara termuat dalam Resolusi 1566 Dewan Keamanan PBB. Disitu dinyatakan terorisme tidak sama dengan aksi kriminal karena mengancam aturan sosial, keamanan individu, keamanan nasional, perdamaian dunia dan ekonomi. Perkembangan terorisme, seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), juga mengancam Indonesia. Sebab, gerakan itu bersifat global, tidak hanya menyasar negara Timur Tengah. Kalau di Syria sudah tidak aman, ISIS pasti akan membuat (kekacauan) di tatanan global. Bahaya terorisme yang jaraknya semakin dekat ke Indonesia, ini merupakan penomena didepan mata karena ISIS telah memilih dan membangun kawasan Filipina Selatan sebagai home base di Asia Tenggara. Baik karena demografi, maupun ekonomi. Di Filipina Selatan bebas untuk mengembangkan paham radikal karena semua memungkinkan karena sudah tumbuh embrio radikalisme yaitu Abu Sayaf, dan dilengkapi persenjataan yang cukup banyak, baik persenjataannya maupun pendukungnya, tidak sedikit pendukung dari luar Filipina juga banyak termasuk dari Indonesia data Inteljen Kemhan ada kekuatan di Malawi sebanyak 1200 orang dan 40 orang berasal dari Indonesia.

Terorisme yang terjadi di Indonesia merupakan ancaman berbahaya dan perlu mendapat penanganan serius dari pemerintah dan pihak keamanan. Aksi teror ini tidak hanya mengarah pada aparat keamanan (polisi) saja, akan tetapi masyarakat sipil berpotensi besar ikut menjadi korban teror. Sementara TNI diikat dan tidak bisa berbuat apa-apa dengan UU saat ini, hanya menunggu ikatannya dibuka. Tetapi fenomena teroris juga tidak berhenti walaupun dunia sudah memiliki skema pemberantasan teroris, hingga hari ini praktek kejahatan yang disebuat sebagai kejahatan kemanusiaan itu masih berlangsung di berbagai Negara.

Gerakan ISIS yang terpusat di negara Iraq dan Syria ternyata sudah menyebar ke Indonesia beberapa tahun silam. Sangat tepat jika terorisme disebut dengan istilah Kejahatan Internasional (International Crime). Pertanyaannya, apakah negara mampu mengatasi terorisme dengan mengandalkan satu pihak saja sebagai penindak kejahatan luar biasa? Saya kira tidak, mereka menjalar dengan sel-sel dari mulai besar hinga terkecil. Banyak bukti menunjukkan jika aksi-aksi teror bersifat masif dan sulit dimusnahkan. Penindakan harus menunggu aksi dulu dari pihak teroris? dan baru semua pihak ribut membicarakannya, kejadian ini dari 2002 hingga sekarang begitu saja. Kita sudah saatnya harus bersatu untuk melawan teroris, jangan nunggu dulu aksi mereka, dari sekarang harus kita cegah dari sel-sel satu ke sel-sel lainnya. Kita tahu Bangsa Indonesia banyak yang direkrut oleh mereka, terbukti dari Suriah dan Irak banyak orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS, bukan sedikit jumlahnya, puluhan hinga ratusan.

Sel-sel Teroris di Indonesia harus diwaspadai

Kita beri gambaran yang memiliki potesi teror di Indonesia setidaknya ada delapan kelompok pelaku terorisme yang bermain langsung di Indonesia. Dengan rincia kelompok-kelompok itu, antara lain: DI/NII, Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD),Tauhid Waljihad, Laskar Jundullah, Batalyon Abu Bakar, dan Taliban Melayu.

Fenomena aksi terorisme di Indonesia merupakan fenomena gunung es. Yang terjadi selama ini hanyalah puncaknya. Sedangkan di bagian bawah banyak pelaku atau calon pelaku yang berusaha untuk muncul ke permukaan sebagai para calon pengantin, memang ada yang terdeteksi dan ada juga yang tidak terdeteksi.  kasus terorisme di Indonesia tidak disebabkan oleh masalah tunggal tetapi merupakan akumulasi dari masalah politik ekonomi sosial budaya (poleksosbud). Ketiga faktor itu menjadi pemicu munculnya suatu konflik yang mengakibatkan lahirnya orang-orang merasa menjadi ketidakadilan yang meluas. Hingga pada akhirnya dieksploitir dengan ideologi yang mengatasnamakan agama dengan paham dan penafsiran ekstrem terhadap agama.

Masih ingat sebuah video berjudul News Salim Mubarok Abu Jandal Daulah Islamiyyah yang mengisahkan seorang pejuang ISIS mengajak putra-putri Indonesia berjihad ke Suriah? Tokoh dalam video itu adalah Salim Mubaroq Attamimi. Ia salah seorang tokoh Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai Islamic StateIraq andSyria (ISIS) asal Indonesia. Salim Mubaroq Attamimi asal Pasuruan itulah yang kemudian diketahui sebagai otak perekrut warga negara Indonesia (WNI) untuk diajak bergabung dengan ISIS. Salim Mubaroq Attamimi itu pula yang sempat mengancam Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko pada saat itu, Kapolri waktu itu Jenderal Polisi Sutarman dan Banser Nahdlatul Ulama, yang dibuat dengan rekaman video yang diunggah ke You Tube.

Kini medan pertempuran di Syria dan Iraq sudah menyempit akibat digempur terus oleh Pemerintah Iraq dan Syria. Salim Mubaroq Attamimi pernah berujar kepada pengikutnya, apabila kita tidak punya lagi tempat di Irak dan Suriah maka kalian kembali kenegara masing-masing. Penekanan  Salim Mubaroq ini terbukti seperti contoh di Malawi Pilipina, kekuatan ISIS DI Malawi  menurut Menhan Jenderal TNI Pur Riamijar sebanyak 1200 orang, 40 orang dari Indonesia, tidak menutup kemungkinan dari Indonesia akan bertambah karena jarak Malawi sangat dekat dengan Indonesia.

Catatan aksi teror di Indonesia sepanajang Tahun

Kita liat aksi teror  terjadi dari mulai Tahun 1981 (1.)tanggal 28 Maret Garuda Indonesia dibajak oleh Komando Jihad, (2.)21 Januari 1985, aksi terorisme peledakan candi Borobudur dengan motif "jihad",(3). Pada tahun 2000, ada empat aksi teror yang pernah terjadi. 1 Agustus2000, sebuah bom meledakkan Kedubes Filipina. Akibat peristiwa ini 2 orang tewas serta 21 orang luka-luka termasuk di dalamnya Duta Besar Filipina untuk Indonesia, Leonides T. Canay dan kerusakan mobil-mobil yang terparkir di lokasi sekitar kejadian,kedua 27 Agustus 2000, bom kembali menimpa kedutaan. Kedutaan kali ini yang menjadi sasaran adalah Malaysia,tiga13 September 2000, bom kembali terjadi di Gedung Bursa Efek Jakarta tepatnya di lantai parkir P2. 100 korban berjatuhan, 10 diantaranya tewas,empat 24 Desember 2000, bom ini tepat diledakkan di beberapa kota di Indonesia yang sedang merayakan malam Natal. Ketika itu 16 orang tewas, 96 orang terluka, dan 37 unit mobil rusak,(4). bom yang meledakkan kawasan Plaza Atrium Senen pada 23 September 2001, (5.)bom yang diledakkan di Gereja Santa Anna dan HKBP pada 22 Juli 2001. Nyawa lima orang pun menjadi korban,(6.) bom restoran cepat saji, KFC Makasar pada tanggal 12 Oktober 2001. tidak ada korban jiwa, (7.)bom yang terjadi di halaman sekolah AIS (Australian International School) pada 6 November 2001. Setahun kemudian, ada tiga aksi terorisme yang terjadi. Bom pertama terjadi di malam tahun baru, 1 Januari 2002. Bom ini meledak di kawasan Bulungan, Jakarta tepatnya di salah satu rumah makan.Empat bom kembali meledak di berbagai gereja di Palu, Sulawesi Tengah dan beruntung tidak ada korban jiwa. Bom kedua dikenal dengan Bom Bali yang terjadi pada 12 Oktober 2002 dan sempat menjadi headlines news di berbagai negara.

Ada tiga ledakan yang terjadi dan menyebabkan korban tewas sejumlah 202 orang dan 300 orang luka-luka. Sebagian besar warga yang menjadi korban adalah warga Australia. Bom ketiga meledakkan sebuah restoran cepat saji, McDonalds Makasar pada 5 Desember 2002. Walaupun korban yang berjatuhan tidak banyak dalam kasus ini, yaitu 11 orang luka-luka dan 3 lainnya lagi tewas, namun tetap saja peristiwa ini menimbulkan kenangan pahit bagi keluarga yang ditinggalkan.(8). Tiga bom kembali terjadi di tahun 2003. Bom yang pertama terjadi pada 3 Februari 2003 di lobi Bhayangkari Mabes Polri Jakarta.Bom yang kedua terjadi pada 27 April 2003 di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta. Peristiwa ini memakan 10 korban, 2 diantaranya luka berat dan sisanya hanya mengalami luka ringan.Bom yang ketiga terjadi pada 5 Agustus 2003 di Hotel JW Marriott. Dan memakan korban tewas berjumlah puluhan dan ratusan lebih orang lainnya menderita luka-luka. Pada tahun 2004, ada tiga pemboman yang terjadi. Pemboman pertama dikenal dengan nama Bom Palopo yang terjadi pada 10 Januari 2004. Ada empat orang yang tewas dalam peristiwa ini.Pemboman kedua dikenal dengan Bom Kedubes Australia yang terjadi pada 9 September 2004. Ada 5 orang yang tewas, ratusan orang luka-luka, dan beberapa gedung di sekitar yang ikut kena dampaknya. Pemboman ketiga dikenal dengan Bom Gereja Immanuel di Palu, Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004.(9.) Lima bom kembali meledak di tahun 2005. Pada tanggal 21 Maret ada dua bom yang meledak di kota Ambon dan beruntung tidak ada korban jiwa. Pada tanggal 28 Mei, ada 22 orang yang tewas dalam pemboman yang dikenal dengan Bom Tentena.Pada 8 Juni, bom meledak di Pamulang. Kali ini yang menjadi korban adalah kediaman Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril. Tidak ada korban jiwa dalam pemboman ini. Pada tanggal 1 Oktober, bom kembali mengguncang Bali. Dalam peristiwa ini, 22 orang tewas dan 102 orang luka-luka. Pada tanggal 31 Desember, sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah menjadi sasaran dan mengakibatkan 8 orang tewas dan 45 orang luka-luka.(10.) Empat tahun kemudian tepatnya tahun 2009, dua bom diledakkan secara bersamaan di Jakarta tepatnya JW Marriott dan Ritz-Carlton.(11.) Dua tahun kemudian, 2011, tiga bom meledak di tiga kota di Indonesia. Kota pertama adalah Cirebon dimana sebuah bom bunuh diri diledakkan di Masjid Malporesta pada 15 April 2011.

Peristiwa ini menewaskan pelaku pemboman dan melukai 25 orang.Kota kedua adalah Tangerang dimana polisi berhasil menggagalkan aksi pemboman terhadap Gereja Christ Cathedral. Kota berikutnya adalah Solo. Sebuah bom bunuh diri kembali diledakkan di GBIS Kepunten, Solo, Jawa Tengah. Satu orang pelaku tewas dalam peristiwa ini sedangkan 28 orang lainnya terluka. Tidak ada korban jiwa dalam pemboman yang terjadi di Pospam Gladak, Solo, Jawa Tengah pada 19 Agustus 2012. Namun aksi ini tetap membuat rakyat semakin was-was.

Kami simpulkan ada 8 Bom yang membuat heboh Indonesia diantaranya :2002 1. Bom Bali 1, (2.) Bom Hotel JW Marriott - 2003,(3.) Bom Kedubes Australia - 2004,(4.) Bom Bali 2 - 2005, (5.) Bom Hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton - 2009, (6.) Bom Mapolresta Cirebon - 2011,(7.) Bom Plaza Sarinah - 2016, (8.) Bom Kampung Melayu2017 sudah berapa kali terjadi,  menurut saya ini sudah sangat darut karena sudah berulang-ulang terjadi, oleh sebab itu sudah saatnya DPR segera menyelesaikan  Rancangan Undang Undang Teroris untuk dilibatkanya TNI menghadapi teroris. Aparat yang mengahapi teroris harus diperjelas payung hukumnya agar semua dapat dipertangung jawabkan secara hukum. Ada kehawatiran dari pihak tertentu masalah keterlibatan TNI untuk terjun menghadapi teroris yaitu masalah HAM, Perlu diketahui TNI sudah dibekali tentang Hukum Humaniter setiap ada penugasan selalu dibekali. Selain itu juga kontrol terhadap TNI sudah terbuka, siap saja bisa mengontrolnya, baik itu masyarakat, LSM maupun media. Sekarang jaman cangih ada HP, masyarakat sudah cerdas, apa yang kira - kira terjadi selalu direkam dan di muat di mensos. Jadi menurut kami kehawatiran tersebut sudah tidak lagi menjadi alasan, sekarang kedepan bagai mana sel-sel yang sudah tumbuh bisa menghilang di tengah-tengah masyarakat dan menjadi tandus untuk teroris dan tidak tumbuh di NKRI yang kita cintai dan yang kita bangakan bersama.

TNI Memiliki Tugas Pokok dan Berkomitmen Untuk Menyelamatkan Bangsa dan Negara Indonesia Serta Mendukung Kebijakan Pemerintah Dalam Pembangunan Nasional
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo
Pengumuman
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Rabu, 15 November 2017
Panglima TNI : Hoax, Prajurit dan Wartawan
Rabu, 15 November 2017
Gatot Nurmantyo: Jangan Menelan Berita Mentah-Mentah
Rabu, 15 November 2017
TNI Harus Kuasai Media Digital
Sabtu, 11 November 2017
Panglima TNI: Pahlawan Berjuang Tidak Pernah Menanyakan Apa Agamamu
Sabtu, 11 November 2017
Jenderal Gatot: Pahlawan Berjuang Tak Tanya Sukumu Apa