72c48fd458ce9e91857e30ed00aff432.jpg

Transformasi TNI AD Dalam Bidang Pertempuran

Rabu, 28 Mei 2014 14:26:00 - Oleh : admin - Dibaca : 4797 kali

Transformasi TNI AD Dalam Bidang Pertempuran

"Transformasi dalam bidang pertempuran merupakan tindakan yang harus dilakukan saat ini dalam menghadapi perubahan strategi global dunia di bidang pertahanan yang semakin maju demi menjaga keutuhan NKRI"

PENDAHULUAN

Pertempuran adalah suatu kontak senjata antara dua atau lebih pihak di mana masing-masing pihak bertujuan mengalahkan pihak lainnya. Pertempuran umumnya terjadi dalam suatu perang atau kampanye Militer dan biasanya terjadi pada waktu, lokasi, dan aktivitas tertentu. Perang dan kampanye dijalankan dengan strategi, sedangkan pertempuran adalah suatu arena di mana taktik dipergunakan.

Jika kita melihat strategi perang Sun Tzu yang ditulis dalam 13 langkah yang sederhana. Dimulai dari perencanaan perang hingga kegiatan intelijen. Namun, kalau diurut ke-13 langkah Sun Tzu itu, inti sarinya hanya ada tiga langkah. Yaitu, mengenal diri anda dengan baik, mengenal musuh anda, dan mengenal tempat di mana kita bertarung. Ungkapan yang paling terkenal yaitu "Dia yang mengenal musuh maupun dirinya sendiri takkan pernah beresiko dalam seratus pertempuran; Dia yang tidak mengenal musuh tetapi mengenal dirinya sendiri akan sesekali menang dan sesekali kalah; Dia yang tidak mengenal musuh ataupun dirinya sendiri akan beresiko dalam setiap pertempuran." Dari teori ini berarti kita kalau mau memang perang dan tidak beresiko, mutlak harus mengenal lawan dengan baik, juga mengenal kekuatan sendiri. Pada umumnya negara-negara didunia melakukan pengumpulan data intelijen negara-negara sekelilingnya, yang berkaitan dengan kekuatan, kemampuan dan kerawanan. Data-data tersebut dikenal sebagai "Order of Battle" (ORBAT) atau diterjemahkan sebagai Susunan Bertempur Musuh (SBM). Data ORBAT disusun oleh badan intelijen Angkatan, ataupun satuan setingkat Komando Utama Operasi (Kotama Ops), dengan faktor-faktor penting sebagai berikut. Komposisi, yaitu sebuah struktur dan organisasi, mulai dari tingkat angkatan kebawah. Disposisi, merupakan lokasi geografis dari kekuatan. Kekuatan yang dinyatakan sebagai struktur komando dan kekuatan satuan penggempur strategis serta pertahanan. Sistem pelatihan, taktik satuan, penggelaran logistik, Combat Effectiveness, data tehnis elektronik. Dan data lainnya yang terkait dengan data personil, seperti kepribadian, sejarah masing-masing satuan, dan seragam serta "badge" satuan. Dari kekuatan ORBAT sebuah negara, yang sangat patut selalu diwaspadai adalah seberapa besar kemampuan penyerang strategis yang mereka miliki, serta kemungkinan daya rusaknya.

PREDIKSI PEPERANGAN DIMASA DEPAN

Jika kita menilik pada keadaan peperangan yang akan terjadi dimasa depan tentunya akan mengarah kepada peperangan asimetris. Dilihat dari definisi asimetris itu sendiri mengandung makna sebagai suatu ketidak-seimbangan antara kanan dan kiri, atas dan bawah maupun dalam berbagai sebab lainnya. Sehingga peperangan asmetris itu pun dapat dipahami sebagai peperangan diantara dua pihak yang bertikai yang tidak terdapat keseimbangan dalam hal kekuatan, persenjataan dan circumstancenya. Salah satu cara untuk dapat mengetahui peperangan asimetris adalah dengan memahami siklus antara aksi, reaksi dan kaunter-reaksi. Sehingga untuk menghadapi peperangan asimetris dimasa depan perlu adanya upaya-upaya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai suatu contoh adalah, dalam doktrin peperangan asimetris yang dimiliki Amerika Serikat, ketika musuh melakukan persiapan peperangan dengan menggunakan senjata biologi, maka yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan menyiapkan teknologi, doktrinasi dan kemampuan untuk force protection dengan mengembangkan anti senjata biologi serta mengembangkan kemampuan untuk menyerang ataupun mengalahkan delivery means musuh, dukungan pihak sipil dan menguasai informasi untuk melakukan propaganda anti musuh melalui media internasional. Ancaman asimetris tentunya akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Bagi Indonesia, dirasa perlu untuk mempersiapkan ancaman asimetris dimasa yang akan datang sehingga dalam menghadapi insuregecy, ancaman pertahanan dari negara adi daya maupun menghadapi ancaman sebuah pakta pertahanan seperti yang dilakukan negara tetangga bersama beberapa anggota commonwealth bangsa ini memiliki formula yang tepat.

Kita tidak dapat menutup mata bahwa pada 50 tahun terakhir dalam kerangka proses globalisasi, pertumbuhan dinamis masyarakat dunia luar biasa, yang diwarnai oleh pelbagai inovasi di segala bidang. Namun demikian kita juga tidak buta terhadap kenyataan, bahwa terutama sejak krisis ekonomi di Asia orang juga disadarkan oleh keterbukaan dan interdependensi serta sifat transnasional dari hal-hal yang bersifat mencederai tidak hanya negara, tetapi juga human security. Contoh terakhir adalah krisis ekonomi global yang melanda dunia, akibat perilaku korporasi multinasional di Amerika Serikat yang berperilaku jauh dari etika bisnis (salah satu ancaman asimetrik).

Kejadian terkini dan terakhir di Indonesia yang menjurus terrorisme yang diarahkan untuk mencederai simbol-simbol Negara oleh kelompok radikalis dapat dikatakan merupakan sinergi (hybrid) antara ancaman yang simetrik dan asimetrik. Kita sadar bahwa masalah keamanan selalu didominasi oleh keprihatinan tradisional seperti kedaulatan, kemerdekaan politik dan Militer serta pertahanan sampai dengan keamanan regional. Meskipun demikian kenyataan yang terjadi adalah munculnya tantangan-tantangan baru seperti  ancaman terhadap kesehatan (penyakit infeksi menular seperti SARS, flu burung dll), pengangguran, kemiskinan, krisis ekonomi, bencana alam (tsunami, gempa, banjir, dsb), degradasi lingkungan hidup, migrasi manusia yang tidak tertib, kompetisi untuk memperoleh sumber daya alam, kejahatan transnasional terorganisasi, perdagangan illegal dan narkoba, terorisme dan saling ketergantungan ekonomi, yang sangat berbahaya baik bagi negara maupun umat manusia. Ditambah lagi pada saat ini muncul ancaman dunia maya ( cyber threat / cyber crime ) yang sebelumnya merupakan ancaman yang potensial telah berubah menjadi ancaman yang bersifat aktual sebagai bentuk tambahan ancaman aktual baru yang berdimensi sangat cepat dari lingkup lokal, nasional, regional atau sebaliknya dapat membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. Seperti terjadi penyadapan - penyadapan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap negara lain dalam rangka untuk mencuri informasi penting serta mengirimkan serangan - serangan yang dapat mengganggu keamanan situs, terutama situs - situs  Pemerintah dan Militer.   Sehingga dari hal tersebut dapat di pastikan peperangan  kedepan  nantinya akan bersifat Hybrid artinya   merupakan  kombinasi   antara pertempuran yang bersifat konvensional asimetris dan nonreguler.

TRANSFORMASI TNI AD

Transformasi sendiri dapat diartikan dengan berubah bentuk atau berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Apa yang harus diubah dari TNI ? Dalam konteks ini, selain memiliki pertahanan yang kuat maka TNI harus memiliki kapasitas untuk menyerang musuh - musuhnya. TNI AD  merupakan bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertanggung jawab atas operasi pertahanan Negara Republik Indonesia di darat. Dimana TNI AD mempunyai tugas pokok yaitu, menegakkan kedaulatan Negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan Bangsa dan Negara. Dihadapkan dengan kondisi saat ini maka TNI AD kedepan ditantang untuk menjadi TNI AD yang modern sehingga harus terus melaksanakan peningkatan kemampuannya, baik untuk menghadapi tugas-tugas operasi militer untuk perang maupun Operasi Militer selain perang. Konsekuensinya, penataan terhadap sistem pendidikan, latihan, materiil, doktrin, pokok-pokok organisasi dan prosedur, teritorial, kepemimpinan, personil, pengelolaan anggaran, persenjataan dan bahkan kebijakan Angkatan Darat perlu dilakukan oleh generasi mendatang sehingga dapat tercapainya tujuan dalam mewujudkan visi TNI sebagai tentara profesional dan modern, memiliki kemampuan yang tangguh untuk menegakkan Kedaulatan Negara, mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjaga keselamatan bangsa dan negara serta kelangsungan pembangunan nasional. Adapun hal- hal yang dilakukan TNI AD dalam rangka meningkatkan kemampuan tempurnya adalah :

1.                 Memaksimalkan modernisasi Alutsista.

            Sebagai negara yang memiliki luas wilayah yang besar, Indonesia perlu membangun kekuatan pertahanan yang memadai guna menjaga kedaulatan NKRI. Peningkatan kekuatan pertahanan sudah menjadi keharusan karena ini menunjukkan kekuatan pertahanan sebuah negara. Negara yang memiliki Militer lemah dan tidak memiliki sekutu yang kuat akan mudah diintimidasi oleh negara lain. Kulitas dan kuantitas alutsista yang dimiliki Indonesia akan sangat mempengaruhi kedudukan Indonesia dalam kancah politik Internasioal. Sebuah negara dengan kekuatan Militer besar akan lebih didengarkan pendapat dan tindakannya ketimbang negara yang Militernya lemah.

Saat ini berbagai Alut Sista yang baru dan modern sudah mulai berdatangan, Khusus TNI Angkatan Darat, selain membeli 114 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit Apache tipe AH-64E. Tepatnya sebanyak 30 unit Leopard dan 21 Marder akan tiba sebelum bulan september 2014. Demikian pula dengan Meriam Caesar, dimana dari 37 unit, 4 unit diantaranya akan tiba sebelum Oktober 2014. Sementara untuk roket MLRS Astros II akan tiba 13 unit sebelum Oktober 2014. Kemudian  rudal pertahanan udara jenis Starstreak serta Mistral dijadwalkan juga tiba sebelum Oktober 2014, khususnya Mistral akan datang sebanyak 9 unit pada Juni 2014.  semua itu dilakukan dalam rangka meningkatkan kekuatan pertahananan bangsa Indonesia untuk menimbulkan dampak detern terhadap negara lain apalagi Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas yang sangat rawan terhadap ancaman-ancama baik internal maupun eksternal. Serta  juga meningkatkan pengaruh dan  wibawa negara dalam melaksanakan diplomasi politik International. Diharapkan kedepan modernisasi Alutsista TNI AD dapat lebih maksimal dan lebih cepat dari rencana yang pada awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024), namun akan lebih baik lagi jika  MEF dapat dicapai pada 2019 atau lebih cepat lima tahun dari target yang ditentukan yaitu dua kali renstra saja (2009-2019) mengingat anggaran yang di gelontorkan ke Kemenhan ada peningkatan dari Anggaran pertahanan pada 2013 mencapai 77 triliun rupiah, namun pada 2014 ini meningkat menjadi 83,4 triliun rupiah,sehinga semakin cepat Alutsista kita lengkap maka semakin cepat pula menata TNI AD yang modern dan berkelas dunia.

2.         Melaksanakan Combined Arms dan Joint Efforts.

Dengan bertambahnya Alutsista diberbagai satuan di TNI AD maka transformasi diberbagai bidang harus dilaksanakan. Satuan Infantri berbeda dengan satuan tempur TNI AD lainnya  seperti Kavaleri, Artileri medan, Artileri pertahanan udara dan Penerbang. Satuan infantri adalah prajurit-prajurit yang dilengkapi dengan senjata dalam rangka menghadapi ancaman kekuatan Infanteri musuh , sedangkan ke empat satuan tempur lainnya adalah satuan-satuan yang berisikan Alutsista yang diawaki prajurit. Dalam era perang Hybrid saat ini makna daya tempur akan semakin kompleks, dimana kemenangan tentu saja akan di raih oleh pihak yang memiliki keunggulan daya tempur relatif terhadap lawannya. Dalam konteks perang modern , daya tempur dapat diartikan sebagai totalitas dari fungsi-fungsi pertempuran yang dimiliki oleh sebuah militer secara terintegrasi satu sama lainnya. Sehingga dengan adanya perubahan-perubahan Alutsista tersebut tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan doktrin dan taktik di setiap kecabangan , dimana harus ada revisi dan penyelarasan-penyelarasan terhadap doktrin agar dapat dijadikan dasar atau pegangan untuk bisa berbuat yang lebih jauh  maupun taktik antara kecabangan satu dengan kecabangan lainnya termasuk antar matra. Hal tersebut tentu saja akan dapat dicapai dengan adanya latihan-latihan yang dilakukan baik intern satuan atau kecabangan itu sendiri ataupun melaksanakan latihan-latihan gabungan antar kecabangan-kecabangan yang ada. Jika dilaksanakan secara terpisah maka daya gempur kita saat ini belum bisa optimal, sudah saatnya kita melaksanakan combined arms dan joint efforts.

Untuk mencapai sinergitas dan interopobelitas maka perlu dilakukan latihan bersama antar kecabangan secara simultan dan terus menerus sehingga akan didapat kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan dalam rangka memperoleh kesempurnaan doktrin dan taktik kedepan. Seperti melaksanakan latihan BTP yang mana sasarannya adalah untuk meningkatkan kemampuan melaksanaan prosedur pimpinan pasukan, kemampuan komando dan pengendalian unsur pimpinan, kemampuan prajurit dan satuan dalam menerapkan teknik dan taktik operasi pertempuran  di daerah pemukiman, kemampuan prajurit dan satuan dalam kerja sama antar kecabangan dan satuan dalam melaksanakan prosedur bantuan tembakan, administrasi serta penerapan hukum Hak Asasi Manusia dan Humaniter yang baik dan benar serta memiliki tujuan untuk melatih kerjasama antar kecabangan dalam suatu operasi tempur sehingga memiliki daya hancur, daya tahan dan daya adaptasi dengan situasi taktis di daerah operasi. Faktor utama terbangunnya integrasi  dan sinergi antar kesenjataan/kecabanganTNI AD adalah komunikasi dan koordinasi yang baik karena setiap satuan memiliki kemampuan dan batas kemampuan yang berbeda dan semua juga memiliki peran dan fungsi yang berbeda pula, maka untuk itu harus ada semangat yang saling melengkapi dan saling mendukung sehingga setiap satuan dapat saling mendukung dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

3.         Meningkatkan keterampilan dan  kemampuan prajurit serta dukungan  berdasarkan Tipologi wilayah

 

Kita harus mengetahui Apa itu tipologi ? Tipologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengelompokan berdasarkan tipe atau jenis. Indonesia adalah negara seribu pulau atau terkenal dengan negara kepulauan dimana Negara Indonesia terdiri dari beribu ribu pulau. Sebagai salah satu unsur pelaksana di TNI AD maka Yonif dituntut untuk mampu melaksanakan berbagai tugas, baik OMP maupun OMSP, sesuai amanat Undang-Undang No. 34 tahun 2004. Dalam pelaksanaan tugas OMP, Yonif dituntut mampu untuk mencari, mendekati, menghancurkan dan atau menawan musuh dalam rangka mendukung tugas pokok Komando Atas.   Sedangkan    dalam    tugas   OMSP   Yonif    dituntut    untuk   mampu melaksanakan 14 macam tugas, diantaranya operasi mengatasi gerakan separatis bersenjata, operasi mengatasi pemberontakan bersenjata, pengamanan wilayah perbatasan, tugas perdamaian dunia,  operasi bantuan untuk pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (SAR), maupun perbantuan terhadap Polri dan Pemda. Dengan demikian, dihadapkan dengan kemungkinan ancaman yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, baik itu ancaman Militer maupun Nonmiliter, maka perbedaan karakteristik wilayah geografis Indonesia perlu menjadi bahan pertimbangan dalam memodernisasi Alutsista dan penataan organisasi Yonif selaku satuan tempur dasar TNI AD.

 

Saat ini dukungan materiil di satuan Yonif masih sesuai atau mengikuti TOP ROI yang berlaku sehingga masih merupakan perlengkapan standar di satuan masing-masing . Namun apabila dihadapkan dengan karakteristik wilayah NKRI yang beraneka ragam, maka satuan-satuan ini dituntut untuk memiliki kemampuan dan perlengkapan yang khusus untuk dapat melaksanakan berbagai penugasan diwilayahnya. Sistem dukungan TNI AD kedepan dituntut untuk mampu mewujudkan sistem pertempuran berdasarkan tipologi wilayah yang berbeda seperti,wilayah perkotaan/pemukiman, hutan gunung, ralasuntai (rawa,laut,sungai dan pantai). Sehiggga dalam pelaksanaan tugasnya, Yonif akan berhasil secara optimal apabila didukung Alutsista modern sesuai karakteristik wilayah tempat satuan tersebut berada, apakah itu di wilayah perairan/kepulauan (Ralasuntai), hutan gunung maupun perkotaan. Untuk itu diharapkan dengan adanya moderenisasi persenjataan Alut Sista di setiap satuan Yonif berdasarkan dengan tipologi di daerah masing-masing. Berikut adalah jenis senjata dan Alkapsus yang perlu disarankan untuk mendukung pelaksanaan tugas Yonif berdasarkan tipologinya:

1. Ralasuntai (Rawa, laut, sungai, pantai). Pola pertempuran yang dikembangkan di wilayah seperti ini akan lebih mengedepankan taktik dan teknik bertempur yang menggunakan kemampuan Ralasuntai, yang dilengkapi perlengkapan modern dan persenjataan khusus yang tahan air (tidak mudah rusak/berkarat dihadapkan dengan wilayah perairan yang basah dan lembab) serta berkemampuan menembak dibawah air. Perlengkapan yang disarankan Senjata HK-416, Live Preserves (Jaket pelampung), Sepatu boot (anti air), Thermal Sight (Teropong deteksi panas), Laser Range Finder (Teropong Laser pengukur jarak), GPS military specs (anti air), Survival kit (peralatan survival), Pisau serba guna, Tali tubuh, UAV (Pesawat tanpa awak/utk pengintaian), Alat angkut air utk kebutuhan taktis (Hovercraft/LCR), Alat angkut air utk kebutuhan administrasi (Kapal angkut personel kapasitas 1 Peleton), Peralatan selam, Alat penjernih air, Alkom troath mic (military specs).

2. Tipe Hutan Gunung. Kemampuan khusus yang harus dimiliki satuan seperti ini tentu saja tidak terlepas dari kemampuan untuk melaksanakan perang hutan. Lingkungan hutan memiliki berbagai efek pada operasi militer. Vegetasi yang rapat dapat membatasi jarak pandang, tetapi juga dapat memberikan kesempatan yang luas untuk kamuflase dan banyak bahan yang dapat digunakan untuk membangun benteng. Medan di sekitarnya  terbatas untuk mobilitas  kendaraan dan sebagainya sehingga membuat dukungan dan transportasi sulit, demikian juga untuk mengerahkan pasukan lapis baja atau jenis lain dari pasukan dalam skala besar. Oleh karena itu untuk keberhasilan pelaksanaan perang hutan ini diperlukan dukungan mobilitas udara. alat peralatan perorangan/satuan Yonif Hutan Gunung ini harus dirancang seringan mungkin, simple namun tahan dan kuat. Perlengkapan yamng disarankan Senjata SS2 V4, Thermal Sight/NVG (Teropong malam), Laser Range Finder (Teropong Laser pengukur jarak), Peralatan Mountaineering perorangan (harness, ascender, descender, karabiner, sarung tangan kulit), Survival kit (peralatan survival), Alat pembaca peta malam hari, Perlengkapan Prapas, Pisau serba guna, Senter kecil, UAV (Pesawat tanpa awak/utk pengintaian ), Peralatan Mountaineering satuan (tali, katrol, jumar), ATV (kendaraan segala medan), Tali statik, Alkom troath mic (military specs).

3. Tipe Perkotaan. Pertempuran perkotaan sangat berbeda dari pertempuran di tempat terbuka baik di tingkat operasional maupun taktis. Faktor kerumitan dalam perang kota termasuk keberadaan warga sipil dan kompleksitas dari daerah perkotaan.  Perang kota bukanlah perang yang mudah karena ada beberapa kesulitan dalam melakukan perang kota. Kesulitan tersebut adalah terdapat jumlah penduduk, bangunan, sulit dalam peninjauan, kebebasan menembak.  Pertempuran dapat terjadi dalam bangunan, gedung, rumah penduduk, jalan-jalan, bunker, lorong-lorong dan bahkan parit sebagai tempat persembunyian.  Pertempuran kota perlu kejelian setiap pasukan  dalam pendeteksian, ketelitian dalam menembak yang diupayakan tidak adanya korban terhadap warga sipil dan rusaknya bangunan/ fasilitas penduduk lainnya.  Spesifikasi kota menjadi pertimbangan penting dalam pengerahan pasukan dan persenjataan yang digunakan. Taktik pertempuran jarak dekat menjadi acuan baku dalam membina kemampuan Yonif yang masuk dalam tipe Tipe perkotaan ini.  Perlengkapan yang disarankan Senjata SS2 V5 & tali sandang PJD, Head Mounted Display /NIMOS (Perangkat elektronik tambahan pada Helm), Weapon Scope Aspis (Alat bidik NIMOS), Thermal Sight/NVG (Teropong malam), Laser Range Finder (Teropong Laser pengukur jarak), Holster, Rompi anti peluru, pelindung lutut & siku, Kampak & martil, UAV (Pesawat tanpa awak/utk pengintaian), Rantis Komodo, Pelontar jangkar, Granat asap, TNT 60 gram & Detonator, Alat pendobrak, Tangga serbaguna, Ran khusus PJD, Alkom troath mic (military specs).

 

Pengklasifikasian Yonif berdasarkan tipologi wilayah, akan mempermudah satuan tersebut untuk menentukan jenis senjata maupun perlengkapan khusus/tambahan yang dibutuhkan guna mendukung operasional satuan ini dihadapkan dengan karakteristik wilayahnya. TOP ROI yang berlaku pada masing-masing Yonif dan pelaksanaan latihan sesuai Proglatsi ditujukan untuk tercapainya kemampuan dan perlengkapan standar bagi masing-masing satuan. Namun apabila dihadapkan dengan karakteristik wilayah NKRI yang beraneka ragam, maka satuan-satuan ini dituntut untuk memiliki kemampuan dan perlengkapan yang khusus untuk dapat melaksanakan berbagai penugasan di wilayahnya. Dengan demikian dukungan senjata dan alkapsus yang sesuai dengan kebutuhan untuk pelaksanaan berbagai penugasan di wilayah akan mendukung keberhasilan satuan dalam melaksanakan tugas, dihadapkan dengan karakteristik wilayah yang berbeda-beda.

PENUTUP

Demikian tulisan tentang " Transformasi TNI AD Dalam Bidang Pertempuran " semoga bisa menjadi acuan untuk menjadikan TNI AD menjadi lebih baik lagi kedepannya.

 

Singkawang,     Mei 2014

Penulis

Danbrigif 19/Kh Kolonel Inf Andi Chandra Asaduddin, S.E NRP 1910035731066

  Berbuatlah Terbaik, Berani, Tulus dan Ikhlas
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo
Pengumuman
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Rabu, 20 September 2017
Jenderal Gatot: Jangan Beli Pesawat yang Senjatanya Hanya Pura-pura
Rabu, 20 September 2017
Panglima TNI Intip Latihan Wayang NKRI
Senin, 4 September 2017
World Premiere Wayang NKRI
Jum`at, 11 Agustus 2017
5 Prajurit dapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa dari Pangdam XII Tanjungpura, Ini Prestasinya
Selasa, 25 Juli 2017
17.000 Penghafal Alquran Akan Ikut Aksi Kasih Sayang 171717