c9fb2a9e812153a139353118104ca03a.jpg  

LINTASAN SEJARAH ANGKATAN UDARA

Rabu, 15 April 2009 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 535 kali

DISPENAU (15/4),- Tanggal 9 April 2009 segenap insan Angkatan Udara memperingati hari jadinya yang ke-63.    Keberadaan  Angkatan Udara yang mandiri ditandai dengan berubahnya status Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara  sejajar dengan Angkatan Darat dan Angkatan Laut, yang secara de jure tertuang dalam Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD tanggal 9 April 1946.

Bila ditinjau peristiwa masa lalu, perjalanan Angkatan Udara sebagai sebuah angkatan perang, memang terkesan unik.   Selain proses kelahirannya yang begitu singkat, Alutsista yang dimiliki juga sangat sederhana.   Waktu itu Angkatan Udara hanya bermodalkan pesawat-pesawat bekas yang dioperoleh rampasan dari tentara Jepang, seperti Cureng, Nishikoreng, Guntei dan Hayabusha.   Jumlah penerbang dan teknisinya pun sangat terbatas.

Dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa, mengangkasanya pesawat dengan identitas merah putih yang diterbangkan Agustinus Adisutjipto. Operasi udara pertama terhadap kota Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Operasi lintas udara pertama di Kalimantan merupakan sebagian darma bhakti para perintis Angkatan Udara kepada Ibu Pertiwi.    Marsekal TNI Suryadi Suryadarma, Marsekal Muda TNI (Anumerta) Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda TNI (Anumerta) Abdulrachman Saleh,  Marsekal Muda TNI (Anumerta) Halim Perdanakusuma, dan Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Iswahjudi merupakan sebagian nama-nama besar yang ikut andil membesarkan Angkatan Udara.

Hadirnya pesawat-pesawat yang lebih modern seperti P-51 Mustang, B-25 Mitchel, B-26 Invander, C-47 Dakota, Mig-15, Mig-17 dan PBY Catalina pada dekade 1950-an telah mengantar Angkatan Udara selangkah lebih maju.   Dengan pesawat-pesawat tersebut Angkatan Udara ikut berperan dalam  berbagai operasi keamanan dalam negeri seperti penumpasan DI/TII, RMS, PRRI, Permesta, serta berbagai gangguan keamanan dalam negeri lainnya.

Pada dekade 1960-an, Angkatan Udara memasuki masa kejayaannya dan bahkan menjadi kekuatan yang paling disegani di kawasan Asia Tenggara karena memiliki Alutsista yang cukup besar dan handal.   Angkatan Udara juga berperan dalam pelaksanaan Operasi Trikora, Dwikora maupun penumpasan pemberontakan G 30 S /PKI.    Alutsista yang dimiliki pada saat itu di antaranya adalah Mig-19, Mig-21, C-130 Hercules, TU-16/KS, IL-28 Ilyusin, Helikopter Mi-4, dan  UF-1/2 Albatros.

Kekuatan dan kemampuan Angkatan Udara menurun drastis di awal dekade 1970-an, namun mulai bangkit kembali secara bertahap pada pertengahan tahun.   Masuknya beberapa Alutsista seperti pesawat OV-10 Bronco, F-86 Sabre maupun T-33 Bird membawa angin segar setelah beberapa Alutsista buatan negara timur mengalami kesulitan spare parts.   Masuknya Alutsista baru tersebut semakin menambah kekuatan Angkatan Udara.

Pada dekade 1980-an kemampuan alutsista TNI Angkatan Udara makin meningkat dengan  hadirnya pesawat F-5E Tiger II,   radar Thomson dan Plesey, pesawat Boeing 737,  A-4 Sky Hawk, dan Hawk MK-53.   Apalagi dengan datangnya pesawat Multirole F-16 Fighting Falcon pada akhir 1989 dan pesawat Hawk 100/200 pada pertengahan tahun 1996 menambah keperkasaan Angkatan Udara.

Memasuki milenium ketiga, Angkatan Udara melengkapi teknologi barat yang sudah ada dengan teknologi dari timur, yaitu dengan hadirnya pesawat Sukhoi SU-27 SK dan SU-30 MK  serta pesawat latih dasat KT-1 Woong Bee dari Korea Selatan.   Secara bertahap pesawat buatan Rusia ini mewarnai angkasa Indonesia dan tentunya akan memperkuat TNI Angkatan Udara dalam rangka menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan Alutsista yang dimilikinya, Angkatan Udara sejak awal berdirinya telah melaksanakan Operasi Militer  Perang (OMP) dan juga Operasi Militer Selain Perang (OMSP).   Operasi bhakti dan tugas-tugas kemanusiaan  di dalam  negeri dan luar negeri merupakan darma bhakti TNI AU dalam menyikapi kepedulian terhadap kesulitan yang dihadapi bangsa dan negara lain.   Bencana alam tsunami di Provinsi Nangroe Aceh Darusalam dan Sumatera Utara, bencana alam di Yogyakarta dan Jawa Tengah, di Manokwari dan Sorong serta di Pakistan, India dan Filipina merupakan bukti nyata keikutsertaan TNI AU dalam OMSP.

Semua usaha yang dijalankan adalah merupakan gambaran nyata sebuah keinginan kuat TNI Angkatan Udara, untuk dapat membangun dan mengembangkan diri menjadi Sayap Tanah Air yang mampu memberikan konstribusi positif, pada upaya pertahanan matra udara maupun kesejahteraan sebagaimana diamanatkan dalam UU RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.

Smiley face
 
"Tunaikan Sumpah dan tugas kewajiban sebagai prajurit Negara Republik Indonesia, yang sanggup menjamin keamanan dan keselamatan nusa dan bangsanya"    
Panglima Besar Jenderal Sudirman
Pengumuman
Senin, 28 Februari 2022
RAPIM TNI POLRI TAHUN 2022
Selasa, 11 Januari 2022
Logo Mabes TNI
Kamis, 9 Desember 2021
Program Diklat Badiklat Kemhan TA.2022
Selasa, 23 November 2021
Foto Resmi Panglima TNI
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Rabu, 2 Maret 2022
Presiden Hadiri Rapim TNI-Polri Tahun 2022
Kamis, 18 November 2021
Resmi Jadi Panglima TNI, Andika Perkasa Akan Lanjutkan Program Hadi Tjahjanto
Jum`at, 3 September 2021
Panglima TNI Raker di Komisi I DPR RI
Jum`at, 23 Juli 2021
Panglima TNI Serahkan Bantuan Tabung Oksigen dan Alkes kepada Masyarakat Papua
Selasa, 8 Juni 2021
Pekuat Pelaksanaan PPKM Berskala Mikro di Daerah, Tim Gabungan TNI dan Polri Dilibatkan