3f804abd95730c82e6217735dd3ebf6a.jpg  

PRAJURIT TNI, MENGABDI SEPANJANG MASA

Selasa, 10 Oktober 2006 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 3007 kali

Bahwa Negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerjasama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara  (Panglima Besar Jenderal Sudirman, Yogyakarta, 27 Nopember 1946, dari Soedirman & Sudirman, Pusat Sejarah TNI, 2004).

Satu tahun setelah merdeka, Panglima Besar Jenderal Sudirman telah berbicara tentang hal mempertahankan negara. Kenapa?

Sejak kita merebut kemerdekaan, melepaskan diri dari penjajahan berabad-abad, rongrongan atas kedaulatan bangsa sudah menjadi fakta sejarah.

Setelah merdeka, Belanda sudah dua kali menyerang lewat agresi militer. Pertama, Juli 1947 dan yang kedua, Desember 1948.

Serangan pada kedaulatan bangsa dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan bukan hanya dari luar negeri. Dari dalam negeri, tercatat beberapa kali pemberontakan. Misalnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh.

Ada pula pemberontakan PGRS/Paraku (Pasukan Gerilya Rakyat Serawak/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara) di Kalimantan Barat dan Permesta (Perjuangan Semesta) di Sulawesi. Kita juga mengenal adanya pemberontakan Partai Komunis Indonesia, yang bermaksud menggantikan dasar Negara, dari Pancasila menjadi komunis.

Hingga sekarang, bahaya yang sama tetap kita hadapi. Buktinya, masih ada gerakan separatis Papua dan Maluku.

 Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang negara perjuangan. Kemerdekaannya bukan pemberian penjajah. Upaya mempertahankan kedaulatan atas serangan musuh dari dalam maupun luar negeri, bukan hal yang mudah.

Sejarah menunjukkan, pertahanan negara kita yang terbesar adalah Angkatan Perang yang didukung sepenuhnya oleh semua komponen bangsa.

Ketika hari ini, 5 Oktober, Tentara Nasional Indonesia (TNI) berumur 61 tahun, kita perlu menyimak kembali pernyataan Jenderal Sudirman.

Mempertahankan kedaulatan bangsa dan keutuhan NKRI memang adalah tugas TNI. Telah ada undang-undang yang mengaturnya, yaitu UU RI nomor 34/2004 tentang TNI. Berkaitan dengan itu, juga ada undang-undang tentang Pertahanan Negara, yaitu UU RI nomor 3/2002. Di situ diatur peran TNI, semua komponen bangsa dan sumber daya nasional yang kita miliki.

 Enam dekade sudah berlalu, apa yang dikatakan Panglima Besar Sudirman masih jadi kebutuhan aktual. Negara Indonesia tidak cukup bila hanya dipertahankan oleh tentara.

Baru setahun setelah Jenderal Sudirman mengatakan itu, terjadi dua kali agresi militer Belanda. Tentu kita tidak harus mengalami hal ini lagi. Ancaman terhadap kedaulatan  dan keutuhan NKRI ada di depan mata.

Ada separatis di Papua dan Maluku. Separatis yang bergerak dengan kekerasan bersenjata maupun melalui jalur politik. Kita memerlukan kerjasama TNI dan golongan serta badan-badan di luar TNI seerat-eratnya.

Dikotomi

Akhir-akhir ini ada beberapa hal berkaitan dengan militer menjadi wacana publik. Dua di antaranya ialah peristiwa kudeta militer di Thailand dan pro-kontra tentang hak pilih anggota TNI pada pemilihan umum.

Terlepas dari dinamika dan jawabannya, diharapkan wacana ini tidak mengantarkan kita pada dikotomi (pemisahan TNI dan WNI dari profesi lainnya pada posisi yang berbeda). Kita pernah mendengar lontaran ide yang menghendaki TNI kembali ke barak (baca: hidup di barak saja). Terpisah dari kehidupan di luar militer.

Dikotomi itu akan mengurangi kekuatan potensial pertahanan negara kita. Jenderal Sudirman mengatakan, perlu kerjasama tentara dengan golongan serta badan-badan di luar tentara.

Visi Jenderal Sudirman, TNI dan seluruh lapisan masyarakat solid sebagai suatu kekuatan. �Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu ’kasta’ yang berdiri di atas masyarakat� katanya di Yogyakarta, 1 Januari 1946. Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu, katanya menjelaskan.

Prajurit TNI selayaknya memaknai kalimat ini, bahwa dirinya sederajat dan bergaul erat dengan sesama warga negara, dari semua profesi. Pada sisi lain, ada penegasan kepada masyarakat, bahwa TNI adalah bagian yang menyatu (kohesif) dalam lingkungannya sendiri.

Munculnya ide-ide yang mendekati dikotomi tadi, ada baiknya juga dipahami secara bijaksana. Adanya pemahaman dan saling pengertian sesama anak bangsa, selain bermanfaat bagi kerjasama, juga sekaligus mencegah timbulnya friksi berkepanjangan.

Dalam konteks ini, diperlukan kepercayaan dan kepercayaan acap kali timbul dari unjuk profesionalisme.

Prajurit TNI yang profesional, tentu bukan hanya diukur dari kemampuannya mengucapkan Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan Delapan Wajib TNI secara lancar dan mantap. Ukurannya lebih pada kemampuan mengaplikasikannya dalam keteraturan hidup sehari-hari.

Saat ini memang sudah saatnya bagi kita untuk menggunakan ukuran atau parameter. Dengan ukuran itulah kita dapat melihat tingkatan profesionalisme. Tetapi, semua angka yang baik dalam parameter, hanya akan berguna jika disertai dengan semangat pengabdian.

Keterampilan menggunakan semua jenis senjata, tingginya nilai kesamaptaan jasmani atau tingkat disiplin, tidak akan berarti jika tidak ada semangat untuk mengabdi. Tidak akan berarti jika prajurit mempunyai sifat menyerah.

Mengabdi berarti, memberikan totalitas kehidupannya untuk kepentingan bangsa. Meskipun bahaya yang dihadapi begitu besar, tidak ada kata menyerah. Keselamatan bangsa dan negara di atas segala-galanya, meskipun nyawa harus diberikan.

Pengabdian ini tentu tidak terbatas pada satu masa tertentu. Pengabdian prajurit TNI kepada bangsa dan negara akan diberikan sepanjang masa. The soldier never dies, prajurit tidak pernah mati. Setelah prajurit pensiun dari dinas kemiliteran, jiwa raganya tetap diberikan demi kejayaan bangsa dan negaranya.

Masih di Yogyakarta, Panglima Besar Sudirman, pada 5 September 1948 mengharapkan prajuritnya seperti ini: �Tetap tenang, tenteram dan teratur, dengan memegang teguh persatuan dan kewajiban dalam menghadapi bahaya dari dalam dan dari luar�. Ia melanjutkan, �mata seluruh rakyat, negara dan pemerintah sedang memandang kepadamu dengan penuh harapan dan penuh kepercayaan�.

Dirgahayu TNI!

* Penulis adalah Kepala Penerangan Kodam XVII/Trikora

Panglima TNI bertekad membangun prajurit yang profesional, disiplin, militan dan rendah hati
Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP
Pengumuman
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Rabu, 30 Januari 2019
Lama Tertunda, TNI Akhirnya Bentuk Satuan Baru, Kogabwilhan
Jum`at, 11 Januari 2019
TNI Pesan Lagi 8 Helikopter H225M, Airbus: Telah Teruji di Medan Tempur
Jum`at, 30 November 2018
Kapolri Dan Panglima TNI Koordinasi Operasi Lilin Dan Perkembangan Kamtibmas 2018
Kamis, 29 November 2018
Panglima TNI Sebut Pengadaan Persenjataan Renstra 2015-2019 Sudah Sesuai
Selasa, 27 November 2018
TNI AD Kembali Juara Tembak ASEAN, Jokowi: Rakyat Sangat Bangga!