3f804abd95730c82e6217735dd3ebf6a.jpg  

Kontingen Garuda, Wujud Implementasi Diplomasi Militer TNI

Jum`at, 15 Juni 2012 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 6785 kali

It has been a great honour for me to have the Indonesian Battalion under my command in Sector East. They have developed an outstanding mission in Lebanon, proving in all moment their very high profesionalism, skill, loyalty and cooperation. They have got the admiration, respect and affection from all Sector East members and contingents due to how they have carried out their job” (Brigjen Juan Carlos Medina Fernandes, 2008).

Itulah apresiasi yang disampaikan dan ditulis sendiri oleh seorang petinggi militer yang bertugas dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), untuk menegaskan secara gamblang keberhasilan Indonesia, khususnya TNI dalam misi tersebut. Keberhasilan ini tentunya telah meningkatkan citra negara dan bangsa Indonesia dalam kancah hubungan Internasional dan pada gilirannya akan memperkuat diplomasi Pemerintah Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan Nasional di forum-forum PBB. Hal ini dapat dipahami karena diplomasi sendiri sejatinya bertujuan “to strive for the achievement of national objectives by peaceful means i.e by negotiation with other states” (W.W. Kulski : International Politics in a Revolutionary Age, 1967, hal.644). Bagi bangsa Indonesia, kepentingan Nasional tersebut adalah melindungi kedaulatan Negara, menjaga keutuhan wilayah NKRI, melindungi keselamatan dan kehormatan Bangsa dan ikut serta secara aktif dalam usaha-usaha perdamaian dunia.   

Diplomasi Militer TNI sebagai Bagian dari Diplomasi Total RI

Martin Griffiths dan Terry O’Callaghan menyatakan bahwa diplomasi merupakan proses keseluruhan yang dilakukan oleh suatu Negara dalam melaksanakan hubungan Internasional (Martin Griffiths and Tery O’Callaghan : International Relations : The Key Concepts, 2002, hal.79). Dalam kesempatan yang sama, para pakar ini juga menyampaikan bahwa dalam arti sempit diplomasi merupakan implementasi dari kebijakan luar negeri suatu Negara. Terkait hal tersebut, dewasa ini pemerintah Indonesia menelurkan suatu konsep yang dikenal dengan istilah “Diplomasi Total”. Dalam diplomasi total ini, semua stakeholder diplomasi Indonesia diajak untuk berperan aktif karena pada hakekatnya diplomasi merupakan tanggung jawab semua komponen Bangsa, termasuk TNI. Diplomasi akan semakin kuat manakala semua komponen Bangsa ikut serta dalam mempromosikan Indonesia dan memperjuangkan kepentingan Nasional Indonesia. Pada tataran ini, diplomasi militer TNI sebagai bagian dari diplomasi total dinilai sangat strategis dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak heran pada perkembangannya, diplomasi militer ini terwadahi secara konstitusional melalui berbagai undang-undang, diantaranya : Undang-Undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Internasional, Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara serta Undang-undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. 

Selanjutnya, diplomasi militer dalam konteks ini didefinisikan sebagai “diplomasi yang dilaksanakan oleh TNI dalam rangka mendukung kebijakan politik luar negeri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan Internasional” (Juklak TNI No.54/II/2006 tentang Diplomasi Militer). Salah satu wujud implementasi dari diplomasi militer TNI yaitu pengiriman Kontingen Garuda dalam misi perdamaian dunia di bawah bendera PBB ke berbagai penjuru dunia sejak tahun 1957. Dalam pengiriman Kontingen Garuda ini, nuansa diplomasi terasa sangat kental. Bahkan tidak kalah penting dibanding tugas utama yang diembannya sebagai pasukan penjaga perdamaian di wilayah Negara konflik. Secara kasat mata kita dapat mengamati bagaimana kiprah para prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda ini memainkan peran diplomasinya melalui berbagai pendekatan dan negosiasi, baik dengan masyarakat di Negara-Negara yang tengah bertikai maupun dengan sesama pasukan penjaga perdamaian yang berasal dari Negara-Negara lain.  

Soft Power Diplomasi Militer TNI

Bila dicermati lebih dalam, harus diakui bahwa keberhasilan diplomasi militer TNI oleh para prajurit Garuda ini berkat adanya “soft power” yang melekat dalam diri mereka. Namun istilah “soft power” di sini sedikit berbeda dengan konsep yang dikembangkan oleh Joseph S. Nye Jr pada tahun 1990-an dimana soft power berasal dari tiga sumber yaitu: kebudayaan, nilai politik dan kebijakan politik suatu negara (Joseph S.Nye Jr : Soft Power, 2004, hal.11). Soft power yang dimaksud dalam konteks ini lebih pada tataran praksis dimana soft power inilah yang men-drive perilaku prajurit TNI, sehingga membuat Kontingen Garuda senantiasa memiliki daya tarik tersendiri dibanding Kontingen Negara lainnya dan mampu mendapatkan apa yang diinginkan. Soft power itu tidak lain dan tidak bukan adalah nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang sekaligus termuat pula dalam Sumpah Prajurit, Sapta Marga, dan Delapan Wajib TNI dan diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai luhur yang disarikan dari budaya asli Indonesia diantaranya keramahan alami, menghargai kearifan lokal, kemampuan untuk menghargai orang lain serta upaya penyelesaian setiap konflik melalui musyawarah untuk mufakat, ternyata merupakan nilai-nilai unik yang menjadi modal dasar yang kuat bahkan “obat mujarab” bagi prajurit Kontingen Garuda dalam melakukan diplomasi militernya. Dengan manunggalnya soft power tersebut secara lahir dan batin, tidak ada kendala apa pun bagi Prajurit Garuda untuk mematuhi dan mengamalkan Code of Personal Conduct for Blue Helmets yang berlaku bagi setiap personel militer yang bertugas di bawah bendera PBB.

Wajarlah apabila dikatakan bahwa pada saat para Prajurit Garuda menjalankan tugasnya otomatis mereka juga telah menjadi seorang “diplomat” karena dalam kapasitasnya, mereka adalah duta dari negara Indonesia dalam mempromosikan Indonesia. Di sisi lain soft power berupa performance para Prajurit Garuda yang sarat dengan kemampuan profesionalitas militer sejati, keberanian, kreativitas dan kedisiplinan juga telah menempatkan prajurit Indonesia menjadi disegani dan memiliki posisi tawar, baik di antara Negara-negara yang bertikai maupun di antara Kontingen-Kontingen Negara lain. 

Kontingen Garuda dan Diplomasi Publik

Berangkat dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa diplomasi militer TNI yang diimplementasikan dalam pelaksanaan tugas Kontingen Garuda selama ini pada gilirannya dikatagorikan sebagai “Diplomasi Publik”. Argumentasi utama katagorisasi ini diambil dari salah satu teori Paul Sharp yang menyatakan bahwa diplomasi publik merupakan “the process by which direct relations with people in a country are pursued to advance interests and extend the values of those being represented” (Paul Sharp : Revolutionary States, Outlaw Regimes and the Techniques of Public Diplomacy, 2005, hal.106). Dari definisi itu, dinyatakan bahwa diplomasi publik merupakan suatu proses dimana dilaksanakan hubungan langsung dengan masyarakat di suatu Negara guna memperjuangkan kepentingan Nasional dan dalam rangka menyebarkan nilai-nilai yang dimilikinya. Secara lebih tajam, Anthony Pratkanis mendefinisikan diplomasi publik sebagai “the promotion of the national interest by informing and influencing the citizen of other nations” (Anthony Pratkanis : Public Diplomacy in International Conflicts, 2009, hal.39). Dalam hal ini, diplomasi ditujukan pada Warga Negara dari Negara lain dan bukan ditujukan pada elit pemerintahan maupun political entities Negara itu sebagaimana berlaku dalam diplomasi standar (baca: tradisional). Di samping itu, diplomasi publik juga merupakan upaya promosi terhadap kepentingan nasional melalui pengaruh-pengaruh berupa perubahan/pembentukan opini dan persepsi publik, kepercayaan, sikap dan kebiasaan, harapan serta motivasi ke arah yang diinginkan. Pada praktiknya, prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam diplomasi publik ini sejatinya sudah mendarah daging di lingkungan prajurit TNI, khususnya di lingkungan TNI AD yang dikenal dengan istilah “Pembinaan Teritorial” atau “Binter” yang sama-sama bertujuan untuk “to win the hearts and minds of the people”. Metode tersebut hanya dibedakan pada ruang lingkup dan konteksnya saja, dimana yang satu pada lingkup Lokal/Nasional sedangkan yang lainnya berada pada lingkup Internasional yang memiliki kekhasan tersendiri.  

Prospek dan Road Map Diplomasi Militer dalam Kontingen Garuda

          Jika melihat metode yang digunakan oleh para PRAJURIT TNI yang bertugas dalam Kontingen Garuda dapat disimpulkan bahwa diplomasi militer yang dipraktikkan selama ini telah menerapkan prinsip-prinsip diplomasi publik dalam rangka memenangkan hati dan pikiran masyarakat setempat di wilayah negara dimana Kontingen Garuda ditugaskan. Nilai-nilai universal yang ditunjukkan dalam sikap dan perilaku prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB terbukti telah diterima dan diapresiasi baik oleh semua pihak. Berbekal realita positip ini, peluang bagi TNI untuk terus berkiprah dalam fora internasional diprediksi akan tetap ada bahkan akan terus meningkat, seiring dengan meluasnya konflik di berbagai belahan dunia dan bertambahnya kepercayaan dunia terhadap pemerintah Indonesia sebagai salah satu negara yang menjunjung tinggi dan mencintai perdamaian. 

          Namun demikian, belum saatnya bagi TNI untuk berpuas diri. Jalan untuk menajamkan kemampuan diplomasi militer bagi para Prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda, baik pada tataran strategis, operasional maupun taktis masih cukup panjang dan berliku. Pemimpin TNI perlu menyusun suatu “road map” agar kemampuan diplomasi militer ini semakin mumpuni dari waktu ke waktu, tidak hanya sekedar skill based namun juga knowledge based. Pakar dan praktisi diplomasi perlu diajak urun rembug agar road map yang disusun dapat bersinergi dengan upaya diplomasi oleh komponen bangsa lainnya, khususnya Kementerian Luar Negeri karena keberhasilan diplomasi total bukan hanya keberhasilan pemerintah semata, namun juga merupakan keberhasilan seluruh bangsa Indonesia, dan hasil dari diplomasi total pada akhirnya akan dinikmati bersama oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dalam konteks ini, keberhasilan yang dicapai para prajurit Garuda dalam setiap misi PBB telah membuahkan hasil berupa dukungan, kepercayaan dan rasa hormat masyarakat Internasional terhadap bangsa dan negara Indonesia di forum-forum PBB.  Hal yang membanggakan tersebut pada gilirannya sangat membantu Indonesia dalam melaksanakan dan melanjutkan pembangunan dalam rangka mencapai tujuan nasional Indonesia. Akhirnya dengan menyadari ini semua, tidak berlebihan apabila diplomasi militer TNI melalui pengiriman Kontingen Garuda senantiasa perlu dipelihara dan ditingkatkan dengan penuh keyakinan dan semangat akan keberhasilannya, sebagaimana tercermin dalam salam setiap prajurit TNI yang bertugas dalam setiap misi perdamaian PBB : “GARUDA !”

(Sandy Maulana Prakasa, S.IKom, pernah bertugas sebagai Juru Bicara Kontingen Garuda di Lebanon dan berpartipasi aktif pada pelatihan-pelatihan dalam rangka misi Perdamaian PBB sampai dengan sekarang)

"Tunaikan Sumpah dan tugas kewajiban sebagai prajurit Negara Republik Indonesia, yang sanggup menjamin keamanan dan keselamatan nusa dan bangsanya"    
Panglima Besar Jenderal Sudirman
Pengumuman
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Jum`at, 12 April 2019
Final Piala Presiden 2019, Panglima TNI Imbau Kedua 10 Apr 2019 Suporter Tertib
Rabu, 30 Januari 2019
Lama Tertunda, TNI Akhirnya Bentuk Satuan Baru, Kogabwilhan
Jum`at, 11 Januari 2019
TNI Pesan Lagi 8 Helikopter H225M, Airbus: Telah Teruji di Medan Tempur
Jum`at, 30 November 2018
Kapolri Dan Panglima TNI Koordinasi Operasi Lilin Dan Perkembangan Kamtibmas 2018
Kamis, 29 November 2018
Panglima TNI Sebut Pengadaan Persenjataan Renstra 2015-2019 Sudah Sesuai