c9fb2a9e812153a139353118104ca03a.jpg  

Refleksi 45 Tahun Kopaska

Selasa, 3 April 2007 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 6378 kali

Pada saat terbentuknya Pasukan Katak pada 31 Maret 1962,saat itu hanya dibekali dengan peralatan minim teknologi, dengan jumlah personel terbatas. Padahal, tugas yang harus diemban amat berat.

Dalam merebut kembali Irian Barat dari Belanda pada 1961,Indonesia melalui Komando Tertinggi (Koti), membentuk operasi Mandala (Trikora). Tugasnya merebut kembali Irian Barat dari Belanda. Lalu, Armada RI menyiapkan pasukan berani mati, dengan tugas pokok menghancurkan pangkalan Angkatan Laut Belanda di Biak, dan menenggelamkan kapal Karl Dorman.

Lalu, muncullah nama Kolonel Laut OP Koesno sebagai komandan Kopaska TNI AL pertama, Mayor Laut Oerip Santoso,dan Sertu PDD Emil Yoseph sebagai pelatih. Selanjutnya, akhir Januari 1962, Mabesal membentuk instruktur grup, dengan memanggil personil TNI AL dari korps jasmani, berpangkat pama hingga tamtama sebanyak 17 orang.Awal Februari dimulailah latihan fisik, yang mengambil tempat di Hotel Thamrin Jakarta.

Latihan ini bersifat tertutup identitasnya. Puncaknya, pada 31 Maret 1962, di halaman kolam renang Senayan Jakarta, Panglima Angkatan Laut (Pangal), Laksamana Madya RE Martadinata meresmikan berdirinya satuan Pasukan Katak AL, yang kemudian dikenal dengan Kopaska. Mengingat pasukan ini harus sudah siap pada Juli 1962, Dansat Kopaska pertama memutuskan untuk mengambil personel dari satuan yang memiliki kualifikasi komando.

Namun ditolak Mabes KKO, dengan alasan Kipam akan menjalankan operasi sendiri, untuk mendukung operasi amfibi pada Operasi Mandala Trikora. Solusinya, atas perintah Danjen RPKAD Mayjen Pahardimulyo, dikirimlah 75 personel berpangkat prajurit kader hingga mayor.Setelah tes, tersaring 22 personel. Jumlah ini ditambah dari Kodam Jaya sebanyak tiga orang. Setelah latihan di Pulau Edam- Kepulauan Seribu selama dua bulan, sekitar awal Juni 1962, satuan RPKAD sebanyak 21 personel, menyatakan tidak sanggup, dan mengundurkan diri.

Mereka juga minta dikembalikan ke Cijantung.Tapi atas perintah Ketua G-1 Koti, pada Komandan Kol OP Koesno, latihan terus berlanjut, hingga keberangkatan ke daerah operasi Trikora. Namun, tempat latihan pun dipindah ke Pangkalan Armada RI Ujung Surabaya. Materi latihannya meliputi keluar masuk kapal selam, melaksanakan problem decompressi chamber, serta naik-turun jaring kapal.

Hingga akhirnya, mereka diberangkatkan dengan KRI Sam Ratulangi. Pada pertengahan Agustus 1962, Kopaska AL dikembalikan dari daerah operasi Mandala Trikora, akibat perjanjian damai antara Belanda dan RI. Selanjutnya,personel dari RPKAD yang berjumlah 21 personel dikembalikan ke Cijantung, sedangkan tiga dari Kodam Jaya disalurkan ke Kodikal, untuk kemudian dididik jadi Catam TNI AL. Untuk kelangsungan masa depan Kopaska AL, pada Agustus 1962 dilakukan penerimaan calon siswa Kopaska AL.

Mereka ditempa di Batujajar. Pada medio 1963, atas perintah Komando Tertinggi (Koti), Kopaska AL melakukan persiapan pelaksanaan operasi Dwikora.Tugasnya mengganyang pemerintah Malaysia,pimpinan Tengku Abdurahman. Yang meliputi daratan Malaka, Singapura, Serawak, dan Sabah (waktu itu masih tergabung dengan Malaysia). Operasi dimulai pada 15 Maret 1964. Seluruh anggota tim Kopaska, yang melaksanakan operasi Dwikora, mendapat penjelasan dari Komandan Kopaska bahwa secara administrasi telah dikeluarkan dari dinas Angkatan Laut.

Pasalnya, jika ada personel yang tertangkap musuh, maka Angkatan Laut dapat mengelak keterlibatannya. Tim Kopaska sebanyak 14 orang termasuk empat orang anggota Kipam KKO yang dipimpin Serda PDD Sunandar dengan berbekal pengetahuan sekuriti singkat berhasil masuk ke daerah sasaran di Singapura. Mereka bermaksud melakukan peledakan memakai jam tangan di daerah perkotaan Singapura dan Pelabuhan Port Dickson, namun sayang ada sedikit masalah,sehingga tidak dapat terlaksana.

Peledakan berikutnya,dilakukan mengarah jaringan pipa air minum di daerah Bukit Timah,yang membentang dari Johor menuju Naval Air Force Seato di Changi, dengan bahan peledak TNT seberat 10 kg. Sasaran berikutnya, kilang minyak Pulau Sebarok,dengan TNT 10 kg, namun tangki tidak terbakar, karena dilapisi genangan air pada sekeliling tangki penyimpanan. Hingga Agustus 1964, di daerah operasi Singapura, bahan peledak sebanyak 40 kg sudah habis.

Komandan Basis di Singapura,mendapat tugas intelijen guna perihal data-data, tentang kegiatan tentara Diraja Malaysia, sekaligus mendeteksi kapal Seato, yang terbukti keluar-masuk pangkalan AL Sembawang. Pada November 1964, seluruh tim Kopaska ditarik dari daerah operasi di Singapura, dan kembali ke daerah persiapan awal di Jakarta.

Putusan ini diambil dengan pertimbangan pelaksanaan operasi tidak efektif lagi. Setelah masa operasi Dwikora atau sekitar September 1964, markas Kopaska AL dipindahkan dari kompleks Seskoal Cipulir ke bangunan mes di bawah Denma Mabesal, di Jln Radio Dalam, Jakarta Selatan. Semua biaya pembangunan berasal dari Koti. Pada Desember 1964, selama lima bulan, Kopaska AL mendapat perintah untuk menyusup ke daerah Timor Timur, melalui Atambua. Tugas utamanya, menggalang penduduk setempat,untuk melakukan pemberontakan melawan Portugis.

Dalam operasi itu, Kopaska AL mengirimkan satu tim, pimpinan Serda PDD Suwarno dan Kelasi Sutas. Penyusupan dilakukan dengan cara tersamar, dengan menyamar sebagai pedagang kuda. Kemudian, saat pecahnya G30 S/PKI, satuan Kopaska yang telah memiliki markas baru ini, dalam kondisi siaga menunggu perintah dari Komandan Kopaska AL Kolonel OP Koesno. Selanjutnya, pada hari yang sama, pukul 19.30, Komandan jaga, Sertu PDD Sunandar menerima telepon dari Perwira Dinas Mabesal, perihal kesiapan pasukan Kopaska untuk membantu pasukan Kostrad, menuju daerah penyiksaan Lubang Buaya Jakarta Timur.

Namun karena belum mendapat perintah Mabesal maupun Koti, pasukan ini memilih menunggu perintah lebih lanjut. Pada 8 Oktober 1965, setelah operasi penyelamatan jenazah para perwira tinggi TNI AD, baru diketahui jika kurir Padin Mabesal, yang membawa perintah untuk Kopaska,keliru menyampaikan ke satuan Kipam KKO di Cilandak, Jakarta Selatan. Menurut kurir tersebut, Kopaska adalah Kipam yang sama-sama berseragam hijau.

Setelah diteliti, dalam operasi penyelamatan tersebut, di samping anggota Kipam terdapat dua orang dari RPKAD, yaitu Prader Sangaji dan Prader Umar,yang mengaku sebagai anggota Kopaska. Ini tidak salah juga, karena mereka berdua tergabung dalam pasukan berani mati, yang pernah bertugas pada masa Trikora 1962 lalu, dalam satuan tugas Kopaska. Itulah beberapa sejarah singkat perjuangan Kopaska.

Selain itu, masih banyak tugas lain, di antaranya penyitaan 11 karung dokumen penting. Dokumen tersebut berisi data-data penting, tentang siapa-siapa yang terlibat pada gerakan G 30 S/ PKI. Hal ini, membuat bangga Kolonel Sarwo Eddy, yang tak lain merupakan pelatih Komando di Batujajar. Prestasi lainnya, yaitu membantu Komandan Operasi Ikan Paus, yang dipimpin Brigjen KKO Boy Abidin. Operasi ini dalam rangka menggagalkan logistik sebanyak 17 truk ke Blitar Selatan.

 

Kondisi Saat Ini

Kehidupan, operasi, dan kegiatan Kopaska terus berlanjut. Saat ini, permasalahan yang dihadapi Pasukan Katak, masih sama seperti 45 tahun yang lalu, di mana sistem persenjataan yang belum memadai bagi pasukan khusus, yang sedianya membutuhkan peralatan yang khusus pula. Karena keadaan yang demikian, Pasukan Katak harus mengembangkan diri dan tidak boleh menyerah dengan keadaan negara yang sedang sulit.

Hal ini pun sesuai dengan semboyan yang dimiliki Kopaska,yaitu �Tan Hana Wigna Tan Sirna�. Semboyan ini berarti tidak ada rintangan yang tidak bisa di lewati. Pasukan Katak pun mengembangkan sendiri sistem persenjataan, yang disesuaikan dengan matra dan medan tugas yang harus dihadapi. Salah satu contoh persenjataan itu adalah Kendaraan Tempur Bawah Air (KTBA). Merupakan hasil pemikiran dari prajurit-prajurit terbaik dari Kopaska, serta didukung penuh oleh TNI AL.

KTBA diciptakan untuk menunjang dan mengunggulkan kemampuan prajurit Pasukan Katak dalam menguasai medan tempur bawah air, agar mampu menyusup ke wilayah laut lawan, dan menghancurkan sarana vital yang dimiliki musuh, serta dengan sigap, dan sesegera mungkin kembali ke daerah sendiri yang lebih aman. Seperti yang berkembang saat ini, operasi-operasi yang dilakukan pasukan khusus tidak lagi dapat dilaksanakan sendiri-sendiri. Maka, operasi gabungan pasukan khusus mutlak dibutuhkan, untuk menghadapi lawan yang memiliki kemampuan yang semakin kompleks, dan yang berdimensi multikonvensional.

Perang nonkonvensional dan asimetris merupakan bentuk konflik pada masa mendatang yang tidak dapat dihindari lagi. Hanya pasukan yang memiliki kemampuan dan kualifikasi khusus,dan terlatih yang mampu mengatasinya. Selanjutnya, hanya negara-negara yang menyadari dan menyikapinya dengan serius yang mampu bertahan untuk menghadapi ancaman ini. Fakta yang ada membuktikan bahwa semakin besar kekuatan militer dari suatu negara,maka semakin disegani negara tersebut,baik oleh negara-negara tetangga maupun negara jauh.

Hal ini akan membuat negara kita akan semakin stabil dan akan mempengaruhi sektor ekonomi negara ke arah yang lebih baik, yang secara tidak langsung akan berimbas pada kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia. Dengan menimbang hal-hal tersebut, Kopaska pada kesempatan hari ulang tahun ini, berharap agar latihan operasi gabungan, dapat dilaksanakan secara berkesinambungan, di mana nantinya dapat menjadi suatu acuan TNI, dalam menghadapi ancaman yang akan datang, pada masa mendatang. Sebab, untuk membangun negara ini, kita harus mengesampingkan ego atau kesombongan diri kita masing-masing, dan bersama dalam mengatasi segala bentuk ancaman, baik dari dalam maupun dari luar.

 

Podcast
 
"Berbuat Baiklah"      
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto
Pengumuman
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Senin, 18 Maret 2024
TNI Pastikan Tak Terkait Klaim Rusia: Tentara Bayaran Bukan Tugas TNI
Rabu, 28 Februari 2024
Jokowi Hadiri Rapim TNI-Polri 2024
Rabu, 21 Februari 2024
TNI AL Kerahkan Kapal Korvet dan Helikopter Panther Ikuti Latihan dengan 47 Negara di India
Selasa, 20 Desember 2022
Presiden Jokowi Lantik Yudo Margono sebagai Panglima TNI
Jum`at, 2 Desember 2022
Panglima TNI Bersama KSAL Lepas Satgas MTF TNI Konga 28 N ke Lebanon




Tiktok