c9fb2a9e812153a139353118104ca03a.jpg  

TNI SUDAH BERUSIA 62 TAHUN, LALU BAGAIMANA ?

Senin, 1 Oktober 2007 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 3247 kali

”Janji sudah kita dengungkan, tekad sudah kita tanamkan, semua ini tidak akan bermanfaat bagi tanah air kita, apabila janji dan tekad ini tidak kita amalkan dengan amalan yang nyata”.(Panglima Besar Jenderal Sudirman, 1946).

Pendahuluan. Tanggal 5 Oktober 1945 merupakan hari jadi TNI semenjak Negara Indonesia berdiri berdampingan dengan Negara-negara berdaulat lainnya. Mungkin tidak terasa telah 62 tahun berdiri bersama jatuh bangunnya pemerintahan yang ada di Republik ini, atau bahkan terasa sangat lama dan panjang pengabdiannya kepada negara ini dengan berbagai macam permasalahan yang dihadapinya. Lebih lanjut pada tanggal 5 September 1948 Panglima Besar Jenderal Sudirman mengamanatkan: ”Angkatan Perang ialah sebagai Alat Kekuasaan negara melindungi kedaulatan negara ke luar dan ke dalam. Angkatan Perang adalah satu kesatuan di bawah satu pimpinan. Tetap tenang, tenteram dan teratur, dengan memegang teguh persatuan dan kewajiban dalam menghadapi bahaya dari dalam dan dari luar, mata seluruh rakyat, negara dan pemerintah sedang memandang kepadamu dengan penuh harapan dan penuh kepercayaan”. (Sudirman & Sudirman, Pusjarah TNI, Jakarta, 2004, hal. 72).

Dengan memahami akan idealisme serta visi TNI, catatan-catatan ini tidaklah berlebihan jika kita ingin merefleksikan diri sebagai Prajurit TNI dan segenap warga negara dalam menyongsong HUT TNI ke 62 pada tanggal 5 Oktober 2007 ini.

Idealisme TNI. Jati diri TNI dapat ditemukan secara tertulis dalam Nilai – Nilai Kejuangan ’45 dan sesuai dengan Amanat Panglima Besar Jenderal Sudirman yang mengatakan bahwa: TNI adalah Tentara Pejuang, Tentara Rakyat dan Tentara Nasional. Bukan seperti yang tertuang dalam Undang – Undang No 34 tahun 2003 yang mencantumkan salah satu jati diri TNI adalah Profesionalisme. Panglima Besar Jenderal Sudirman mengatakan: ”Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti sekarang ini, segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat, kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot. Angkatan Perang Republik Indonesia lahir di medan perjuangan kemerdekaan nasional, di tengah–tengah dan dari revolusi rakyat dalam pergolakan membela kemerdekaan itu, karena itu, Angkatan Perang Republik Indonesia adalah: tentara nasional, tentara rakyat dan tentara revolusi”. (Sudirman & Sudirman, Pusjarah TNI, Jakarta, 2004, hal. 49).

Jelas bahwa jati diri TNI adalah : tentara nasional, tentara rakyat dan tentara pejuang = revolusi. Disini tidak ada kata-kata profesionalisme, karena sebenarnya profesionalisme itu bukanlah jati diri asli TNI tetapi sudah merupakan adopsi dari rumusan tentara Negara Barat. Jenderal Besar Nasution dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa jati diri TNI adalah bahwa: “Bukan sekedar “alat pemerintah” sebagaimana yang berlaku di negara-negara Barat, bukan pula “alat suatu partai” sebagaimana yang ditentukan di negara-negara komunis, apalagi semacam “regim militer” yang mendominasi negara. TNI adalah “alat perjuangan rakyat”, sebagai salah satu dari kekuatan politik nasional yang ada, dan dengan keikutsertaan dalam kehidupan politik itu, TNI tidak akan tidak aktif”, (Salim Said, Genesis of Power, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1992, hal 30). Ini disampaikan pada saat menanggapi situasi dan kondisi dimana masyarakat dan negara membutuhkan peran lebih dari TNI dalam mengawal pembangunan dan mengisi kemerdekaan Indonesia, dimana TNI harus berperan juga sebagai kekuatan Sosial Politik pada saat itu dan sesudahnya hingga jatuhnya regim Orde Baru pada medio 1998. Visi TNI. Memahami akan VISI TNI dapat ditinjau dari fungsi dan peran TNI di masa kini dan masa datang, fungsi dan peran tersebut akan mengalir dari visi bahwa TNI akan tetap merupakan kekuatan pertahanan yang profesional, efektif, efisien dan modern serta senantiasa siap untuk mengamankan dan memberikan sumbangan dharma bhakti yang diperlukan bagi kelancaran pembangunan bangsa menuju pencapaian tujuan nasional bersama-sama dengan komponen strategis bangsa lainnya.

TNI tetap menyadari hak dan kewajibannya terhadap bangsa, dengan kesadaran bahwa negara ini dibangun atas dasar faham asas kekeluargaan. Dengan mempertimbangkan persoalan kebangsaan yang berkembang makin kompleks, dharma bhakti TNI akan senantiasa disesuaikan dengan perkembangan lingkungan. Atas dasar pertimbangan tersebut sikap selalu peduli atas nasib bangsa akan senantiasa melekat pada TNI, dan TNI akan memikul tanggungjawab atas bangsa bersama seluruh komponen bangsa, dan sebagai bagian dari sistem nasional.

Refleksi masa depan sangat penting untuk dimengerti dan dipahami bahwa TNI harus memiliki idealisme yang kuat dan harus terpatri di dalam sanubari setiap prajuritnya di dalam setiap jengkal langkahnya. Jati diri sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang dan Tentara Nasional harus benar-benar dijiwai dan dipahami oleh segenap prajuirt secara seksama. Demikian juga bagi segenap masyarakat / rakyat bahwa sesungguhnya TNI adalah merupakan bagian dalam kehidupannya dalam pengabdiannya kepada Bangsa dan Negara.

Catatan-catatan di atas menggambarkan ketegasan Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai negarawan, Pemimpin dan Prajurit sejati, yang sekarang ini bagi TNI menemukan relevansi aktualisasinya dalam menghadapi tugas-tugas yang semakin kompleks dan tidak ringan. Amanat tersebut patut menjadi tantangan, dorongan dan panggilan suci bagi segenap prajurit TNI yang teguh pada komitmennya, yaitu menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Dalam konteks ini, setiap prajurit dituntut mampu membekali dirinya guna menghadapi masa depan yang akan tumbuh dinamis dan kompleks. Setiap prajurit dituntut untuk mampu mengukir prestasi dan berkarya secara optimal. Cepat menyesuaikan diri terhadap perkembangan lingkungan, dan memiliki motivasi, kreasi dan inovasi di dalam meningkatkan pengabdiannya secara profesional sebagai prajurit Sapta Marga. Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI kali ini, sudah sepantasnya segenap prajurit wajib untuk merefleksikan kaidah-kaidah tersebut di atas sebagai pijakan dalam melanjutkan pengabdiannya kepada Bangsa dan Negara. Demikian juga segenap lapisan masyarakat dapat ikut andil berperan dalam mengawal perjalanan TNI itu sendiri karena memang salah satu jatidiri TNI adalah merupakan Tentara Rakyat, dimana rakyat harus ikut merasa memilikinya.

Globalisasi tengah merambah di segala bidang kehidupan manusia di muka bumi ini. Kondisi yang ditimbulkan adalah adanya pergeseran-pergeseran nilai. Dari nilai kemanusiaan sampai pada nilai-nilai kehidupan yang menyertainya. Dari sini kita melihat tantangan mendasar yang dihadapi TNI di masa depan yaitu menampilkan tingkat kualitas profesionalisme tertinggi dalam fungsi yang diperankan oleh TNI dalam upaya nasional, bersama komponen strategis bangsa lainnya, menuju pencapaian cita-cita nasional, melalui kemampuan berpikir jernih guna mampu menempatkan permasalahan dalam konteks secara cepat, dalam paradigma baru TNI.

Seperti dipahami dalam catatan di atas, bahwa profesionalisme bukanlah sebuah jati diri, melainkan sebuah sikap dan postur seorang prajurit, dan sebenarnya telah dicakup atau diliputi oleh makna dan arti sebagai Tentara Nasional. Pandangan Barat seperti yang dikatakan oleh Samuel P Huntington dalam bukunya mangatakan pengertian profesionalisme mencakup kriteria: ”expertise (keahlian), responsibility (tanggungjawab) dan corporateness (kebersamaan)” (Samuel P Huntington, The Soldier and The State:The Theory and Politics of Civil-Military Relations, Cambridge, Harvard University Press, 1957, hal 8 – 11).

Secara universal pandangan ini diadopsi dalam memberikan arti akan profesionalisme. Akan tetapi beberapa kalangan mengartikan profesionalisme lebih sempit dan bersifat teknis. Inilah sebenarnya perbedaan yang hakiki antara pengertian profesionalisme yang secara umum di pahami. Lebih lanjut akan jati diri sebenarnya adalah sudah ada di dalam hati sanubari setiap prajurit TNI. Dari batasan akan pengertian profesionalisme ini dapat dipahami bahwa sudah sepantasnya dan seharusnya bahwa prajurit TNI memiliki postur dan sikap yang profesional dalam kehidupannya.

Sebagai konsekuensi logis dalam memerankan idealisme TNI yang juga sebagai idealisme prajurit dalam visi yang harus diemban, ada beberapa kriteria yang patut dan menarik untuk dicermati akan kriteria keberhasilan peran TNI di masa mendatang adalah: Pertama, berhasil melaksanakan tugas pokok dan tugas-tugas TNI dalam ikut mendorong terwujudnya masyarakat madani yang demokratis, sehingga masyarakat madani memiliki ruang gerak yang luas secara fungsional dan proporsional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, berhasil menegakkan nilai-nilai TNI, baik nilai-nilai intrinsik maupun nilai-nilai ekstrinsik. Di masa depan nilai-nilai TNI yang bersumber dari nilai-nilai 45 dan nilai-nilai TNI 45 tetap akan menjadi landasan dan etos pengabdian prajurit TNI. Ketiga, berhasil melakukan peran-serta yang konstruktif dan aspiratif dalam pembangunan bangsa. Melanjutkan pembangunan bangsa merupakan tugas nasional dimana TNI menjadi bagian integral di dalamnya.

Eksistensi, kiprah dan kinerja TNI senantiasa didambakan dan mendapat legitimasi rakyat baik formal maupun kultural. Sebaliknya agar tidak terjebak pada pengembangan keterlibatan yang terlalu luas, patut pula diwaspadai parameter yang digunakan untuk menguji tugas di luar pertahanan yang dapat dilakukan oleh TNI. Parameter tersebut adalah: Pertama, apakah keterlibatan TNI telah mengambil fungsi institusi lain? Untuk itu TNI akan sangat selektif dan konsisten serta berusaha membatasi diri dan tidak akan melibatkan diri diluar fungsi yang tidak ada keterkaitan sama sekali dengan fungsi pertahanan. Kedua, apakah TNI mendapatkan perluasan kewenangan dan menjadi kelompok yang mendahulukan kepentingan sendiri dengan mengorbankan keberadaan pihak lain. TNI tidak boleh sama sekali terlibat pada kepentingan diri sendiri dan kelompok, apalagi memperluas kewenangan di luar fungsinya sebagai suatu hal previllige. Ketiga, apakah TNI mulai mangabaikan tugas pokoknya? Distorsi yang paling signifikan atas peran masa lalu adalah begitu luasnya jamahan dan jangkauan fungsi dan kewenangan TNI diluar fungsi pertahanan dan keamanan.

Paradigma baru peran TNI diyakini akan dapat menyatukan kedua fungsi yang distortif itu menjadi konvergen dan terintegrasi secara utuh menyeluruh dan dalam satu kata yaitu pertahanan. Sementara itu, kebutuhan berpikir jernih sebagai penyesuaian kembali atas budaya organisasi dari budaya lama yang memberi tekanan kepada konformitas di atas pemikiran inovatif perlu dicerminkan dalam setiap produk pemikiran.

Demikian juga yang harus oleh masyarakat/rakyat berikan dalam ikut mendukung kelanjutan pengabdian TNI dalam berbangsa dan bernegara. Keadaan ini akan dirasakan pengaruhnya dalam format upaya pertahanan negara seperti yang kita kenal saat ini yang menyangkut seluruh strata mulai dari doktrin, struktur kekuatan dan pengorganisasian serta implementasi operasionalnya. Sumbangsih masyarakat tidak harus berupa materi namun lebih besar lagi adalah ikut sertanya dalam bentuk-bentuk inovatif dan kritik-kritik yang membangun. Budaya tersebut sangat diperlukan guna mampu memberi solusi secara tepat bagi berbagai permasalahan pertahanan negara. Karena dalam rangka pembinaan sumberdaya nasional untuk kepentingan pertahanan negara terdapat dua hal perlu dikembangkan guna pembentukan landasan yang kuat.

Landasan pertama, dalam bidang sumber daya manusia adalah pembentukan cadangan, mobilisasi serta kemungkinan wajib militer sebagai wujud hak dan kewajiban dalam suatu sistem yang efisien. Landasan kedua adalah pembangunan secara bertahap menuju pembangunan industri pertahanan yang kuat sebagai salah satu faktor dalam rangka menjamin daya tahan serta ketahanan pertahanan negara. Kesimpulan.

Beberapa refleksi yang harus tetap dijaga dan dikembangkan pada masa-masa yang akan datang khususnya dalam merenungi HUT TNI saat ini adalah: bahwa prajurit TNI dengan idealismenya tetap merupakan bagian integral dari masyarakat dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kedua, bahwa TNI akan selalu diawaki oleh prajurit-prajurit yang profesional sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya masing-masing. Ketiga, TNI adalah bagian integral masyarakat / rakyat yang wajib ikut serta membangun Bangsa dan Negara kapanpun dan dimanapun sebagai kekuatan Pertahanan Negara.

 

Penulis adalah Kepala penerangan Kodam XVII/Trikora

Smiley face
 
"Tunaikan Sumpah dan tugas kewajiban sebagai prajurit Negara Republik Indonesia, yang sanggup menjamin keamanan dan keselamatan nusa dan bangsanya"    
Panglima Besar Jenderal Sudirman
Pengumuman
Siaran Pers
Amanat
Berita Media
Selasa, 20 Desember 2022
Presiden Jokowi Lantik Yudo Margono sebagai Panglima TNI
Jum`at, 2 Desember 2022
Panglima TNI Bersama KSAL Lepas Satgas MTF TNI Konga 28 N ke Lebanon
Jum`at, 25 November 2022
Sambangi Cianjur, Panglima TNI Evaluasi Kekuatan Pasukan di Lokasi Gempa
Jum`at, 25 November 2022
Panglima TNI Tinjau Lokasi Gempa Cianjur Kirim Bantuan dan Bawa 8 Ribu Paket Makanan
Selasa, 8 November 2022
Panglima TNI cek alutsista pengamanan KTT G20